HomeMARHABAN YA RAMADHAN ; NILAI KESIAPAN DAN SIKAP DIRI

MARHABAN YA RAMADHAN 1433 H; NILAI KESIAPAN DAN SIKAP DIRI

MARHABAN YA RAMADHAN 1433 H;  NILAI KESIAPAN DAN SIKAP DIRI

OLEH AMIR MAHRUDIN[1]

Sebelum melanjutkan tulisan ini,   UNIVERSITAS DJUANDA BOGOR  TERLEBIH DAHULU MENGUCAPKAN, “MARHABAN YA RAMADHAN,  selamat datang wahai Ramadhan, Dengan izin-Mu ya Allah, kami sambut dan kami jemput bulan-Mu yang agung dan penuh berkah ini dengan penuh keikhlasan. Berkahilah kami, kuatkanlan kami, dan berilah kami kesabaran serta tetapkanlah kami dalam keimanan dan ketakwaan. Amin ya Mujibassailin!

 

Kedatangan bulan Ramadhan dalam masyarakat muslim Indoensia  disikapi dengan sikap-sikap yang berbeda, yaitu;[2]

  1. Sikap muslim super-genius” (khususil khusus)[3] adalah sikap muslim yang  menyambutnya penuh dengan kegembiraan, suka-cita, semangat, dan motivasi yang kuat dalam menyongsong kedatangannya, berhati ikhlas dan sabar menjalankan ibadah-ibadah di dalamnya. Ia  tidak mau melewatkan waktu sedikit pun berlalu, tanpa mencari keridhoan Allah SWT, bahkan kedatangannya sangat dirindukan, kalau bisa seluruh bulannya adalah Ramadhan.  Inilah sikap mukmin sejati yang istiqomah dengan keimanannya. Ramadhan baginya merupakan “tamu istimewa” dan bulan yang sangat mulia. Sebab, di dalamnya berisikan keberkahan. Maksudnya, bulan yang ditambahkan dan dilipat-gandakannya kualitas-kualitas kebaikan, sedangkan keburukan tidak dilipat-gandakannya, tetapi sesuai dengan kualitas keburukan yang dilakukannya. Ia menyambut dan menerima kedatangan  bulan Ramadhan bukan hanya dengan fisiknya saja, melainkan juga dengan hati, ruh, dan sepenuh jiwanya.
  2. Sikap muslim yang “genius” (Sikap khusus). ia menyambut dan menerimanya  dengan  biasa-hati terbuka untuk menjalankan segala titah-Nya sebagai kewajiban yang mesti dilakukan oleh dirinya.. Oleh karena itu, perilakunya standar-standar saja dalam menyambut dan menjalankannya.
  3. Sikap muslim yang “normal (sikap muslim yang umum).  Ia menyambutnya dengan biasa-biasa saja, ikut meramaikan kedatangannya dengan hal-hal yang bersifat fisik,, seperti membakar petasan, makan sama-sama (orang sunda menyebutnya , cucurak), berlibur dan hiburan terlebih dahulu, dsb.
  4. Sikap muslim yang idiot, yaitu sikap muslim yang lemah dan  “sinis”. Terhadap kedatangan bulan Ramadhan. Sebab, dianggapnya adalah “bulan lapar” dan menyengsarakan. Indikator  perilakunya, seperti menjalankan ibadah “shaum” di awal bulan Ramadhan, selanjutnya tidak menjalankan lagi, di rumah ikut sahur, tetapi ketika berada di pasar atau di kantor, ia tidak shaum, sedangkan bila tiba di rumah, ikut buka shaum, bahkan terang-terangan tidak menjalankan shaum, dengan cara makan dan minum, dsb di depan umum. Silahkan kita melakukan tafakur dan merenungkan, termasuk sikap yang manakah diri kita masing-masing?

 

Untuk menyambut bulan Ramadhan ini, agar kita memiliki niat, motivasi dan semangat yang kuat, marilah kita melakukan tafakur (berpikir dan merenungkan), muhasabah ( melakukan auto-krtik dan koreksi  diri), dan mujahadah (sungguh-sungguh), kita simak dengan seksama khutbah Rasulullah Saw. ketika menyambut bulan Ramadhan yang berisikan nasehat dan pesan-pesan  sebagai berikut;[4]

 
  1. Wahai manusia, sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.
  2. Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.
  3. Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin.
  4. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya.
  5. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu.
  6. Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.
  7. Wahai manusia, sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.
  8. Ketahuilah! Allah ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin.
  9. Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. (Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”
  10. Rasulullah meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”
  11. Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir.
  12. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat.
  13. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
  14. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
  15. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
  16. Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain.
  17. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.
  18. 18.  Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin k.w. berkata: “Aku berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.
  19. 19.  Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’.” Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.”
  20. Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan ( syahrul muwasah)  dan bulan Allah memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya.”
  21. “Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.” Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”
  22. Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”
  23. Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya.”Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.
  24. Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.”

( H.R. Ibnu  Huzaimah)

 

Selain itu, beberapa Hadis yang relevan  dengan  Taushiyah Ramadhan Nabi tersebut, yaitu;

  1. Dari Abi Hurairah R.A berkata;
كَانَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ يَقُوْلُ: (( قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، كَتَبَ الله عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، فِيْهِ تُفْتَحُ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوِابُ الجَحِيْمِ، وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ، فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ )) رواه أحمد والنسائي.

Rasulullah saw. biasanya memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa.”

(H.R. Ahmad dan An Nasa’i).

2. Dari Ubadah bin Ash Shamit, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

:

(( أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرُ بَرَكَةٍ، يَغْشَاكُم الله فِيْهِ، فَيُنَزِّلُ الرَّحْمَةَ، وَيَحُطُّ الخَطَايَا، وَيَسْتَجِيْبُ فِيْهِ الدُّعَاءَ، يَنْظُرُ الله إِلَى تَنَافُسِكُمْ فِيْهِ، وَيُبَاهِي بِكُمْ مَلاَئِكَتَهُ، فَأَرُوْا الله مِنْ أَنْفُسِكُمْ خَيْرًا، فَإِنَّ الشَّقِيَّ مَنْ حُرِمَ فِيْهِ رَحْمَةَ الله )) رواه الطبراني ورواته ثقات.

“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, mengahapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan Dia membangga-banggakanmu kepada malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang-orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini.” (H.R. Ath Thabrani, dan periwayatnya tsiqah).


3. Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


أُعْطِيَتْ أُمَّتِيْ فِيْ شِهْرِ رَمَضَانَ خَمْسُ خِصَالٍ لَمْ تُعْطَهَا أُمَّةٌ قَبْلَهَا: خَلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عَنْدَ الله مِنْ رِيْحِ المِسْكِ، وَتَسْتَغْفِرُ لَهُمْ المَلاَئِكَةُ حَتَّى يُفْطِرُوْا، وَيُزَيِّنُ الله كُلَّ يَوْمٍ جَنَّتَهُ ثُمَّ يَقُوْلُ: يُوْشِكُ عِبَادِيَ الصَّالِحُوْنَ أَنْ يُلْقَوْا عَنْهُم المُؤْنَةَ وَالأَذَى وَيَصِيْرُ إِلَيْكَ، وَتُصْفَدُ فِيْهِ مَرَدَةُ الجِنِّ فَلاَ يَخْلُصُوْنَ فِيْهِ إِلَى مَا كَانُوْا يَخْلُصُوْنَ إِلَيْهِ فِيْ غَيْرُهُ، وَيُغْفَرُ لَهُمْ فِيْ آخِرِ لَيْلَةٍ )) قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ الله أَهِيَ لَيْلَةُ القَدْرِ؟ قَالَ: (( لاَ، وَلَكِنَّ العَامِلَ إِنَّمَا يُوَفَّى أَجْرُهُ إِذَا قَضَى عَمَلَهُ )) رواه أحمد.

“Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu: bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kasturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah Azza Wajalla setiap hari menghiasai surganya lalu berfirman (kepada surga): “hampir tiba saatnya para hambaku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu.” Pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada umatku ampunan pada akhir malam.” Beliau ditanya: “Wahai Rasulullah apakah malam itu lailatul Qadar? Jawab beliau: “Tidak. Namun orang yang beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalnya. (HR. Ahmad).

Berdasarkan pada Hadis dan Khutbah yang berisikan taushiyah Rasulullah Saw di atas dalam menyambut kedatangan Ramadhan, maka memberikan indikasi bahwa kita perlu mempersiapkan  diri dan mengembangkan sikap yang selaras dengan taushiyah tersebut, agar  pelaksanaan ibadah-ibadah pada bulan Ramadhan memiliki makna dan berkualitas. Bagaimana cara mempersiapkan diri kita dalam rangka menyambut Ramadhan? Dan Bagaimana sikap diri kita yang semestinya ketika mengisi dan menjalankan ibadah-ibadah pada bulan  Ramadhan.

 

 

Hal-hal yang perlu dipersiapkan oleh diri kita dalam rangka menyambut kedatangan Ramadhan, antara lain sebagai berikut :

1. Berdoa untuk Menyambut Kedatangannya, sebagaimana Ali bin Abi Thalib berdoa;

أللهم ادخله علينا بالسلامة من اللأسقام والفراغ من الأشغال ورضّنا فيه باليسير من النوم

Ya Allah masukkanlah kami ke dalam Ramadhan dengan  selamat dari berbagai penyakit, hindarkan kami dari berbagai kesibukan dan hindarkan pula dari rasa cepat mengantuk.

 

2. Pasang niat yang ikhlas untuk melaksanakannya.

Menjelang Ramadhan datang, tiket kereta api sudah habis terjual, untuk pulang kampung, orang rela antrian berjam-jam, kepanasan, dan kelelasan hanya untuk mendapatkan tiket, karena takut kehabisan, bahkan merencanakan untuk pergi hiburan dan tamasya. Terkadang kita disibukkan oleh hal-hal yang tidak menyentuh hakikat Ramadhan, tetapi hal-hal yang bersifat hedonis dan pragmatis, sehingga terkikis memiliki niat yang ikhlas untuk menyambut Ramadhan. Oleh karena itu, wajar jika puluhan kali Ramadhan menghampiri dan melaksanakan ishaum, kurang bahkan mungkin tidak memberikan pengaruh positif pada dirinya seakan-akan ibadah Ramadhan hanya sekedar ritual belaka, sekedar ajang untuk menggugurkan kewajiban tanpa menghayati dan meresapi esensi ibadah tersebut, jika Ramadhan berlalu ia kembali kepada kondisinya semula. Pasanglah niat yang ikhlas untuk menjadikan Ramadhan kali ini dan selanjutnya sebagai mukmin untuk menghasilkan berbagai macam kebaikan dan memetik kualitas takwa. Anggaplah Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan terakhir yang kita lalui karena kita tidak bisa menjamin kita akan bertemu Ramadhan di tahun-tahun berikutnya. Tanamkan tekad yang disertai dengan keikhlasan untuk konsisten dalam beramal saleh dan beribadah pada bulan Ramadhan ini. Rasulullah Saw. menjelaskan: “Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan ikhlas maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu.”

 

3. Melakukan Taubatan Nasuha (Taubat yang sungguh-sungguh).

Setiap manusia adalah pendosa dan sebaik-baik pendosa adalah yang bertaubat” demikian sabda Rasulullah Saw. seperti yang diwartakan Ahmad dan Ibnu Majah.

 

Di antara karunia Allah adalah selalu mengulang-ulang kehadiran momen-momen kebaikan. Ada momen yang diulang setiap pekan, bulan, tahun dan lain-lain. Ramadhan adalah salah satu dari momen tersebut yang selalu datang setiap tahun. Ketika seorang hamba tenggelam dalam kelalaian karena harta benda, anak istri, dan perhiasan dunia lain yang membuat dia lupa kepada Rabbnya, terbius dengan godaan setan, dan terjatuh ke dalam berbagai macam bentuk maksiat datang bulan Ramadhan untuk mengingatkannya dari kelalaiannya, mengembalikannya kepada Rabbnya, dan mengajaknya kembali memperbaharui taubatnya. Ramadhan adalah bulan yang sangat layak untuk memperbarui taubat; karena di dalamnya dilipatgandakan kebaikan, dihapus dan diampuni dosa, dan diangkat derajat. Jika seorang hamba selalu dituntut untuk bertaubat setiap waktu, maka taubat pada bulan Ramadhan ini lebih dituntut lagi; karena Ramadhan adalah bulan mulia waktu dimana rahmat-rahmat Allah turun ke bumi. Mana para pendosa? Mana orang-orang yang melampaui batas? Mana orang-orang yang selalu bermaksiat kepada Allah siang malam? Mana orang-orang yang membalas nikmat Allah dengan maksiat, memerangi Allah di bumi-Nya, dan menentangnya dalam kekuasan-Nya? Segeralah bertaubat! Karena tak satu pun dari kita yang bersih dari dosa dan bebas dari maksiat. Pintu taubat selalu terbuka dan Allah senang dan gembira dengan taubat hambanya. Taubat yang sungguh-sungguh atau taubat nasuha adalah dengan meninggalkan maksiat yang dilakukan, menyesali apa yang telah dilakukan, dan berjanji untuk tidak kembali mengulangi maksiat tersebut, dan jika dosa yang dilakukannya berkaitan dengan hak orang lain hendaknya meminta maaf dan kerelaan dari orang tersebut.

 

4. Melakukan tilawah.
Tilawah artinya membaca dan melakukan telaahan dengan sebaik-baiknya terhadap bacaan yang kita baca. Melakukan tilawah dalam rangka menyambut Ramadhan adalah membaca al-Quran, Hadis, buku-buku, kitab-kitab, dan referensi lainnya dalam rangka meningkatkan pengetahuan tentang Ramadhan dan kualitas-kualitasnya, sehingga dari sini melahirkan ide, gagasan, pengeathuan, sikap, dan cara kita menghadapi  dan melaksanakan Ramadhan dengan baik dab benar.

 

5. Mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan hukum-hukum seputar Ramadhan.

Misalnya mengenai hukum puasa, syarat-syarat, kewajiban, sunah-sunah, hal-hal yang mustahab (di sukai) maupun penjelasan mengenai apa-apa yang membatalkan dan yang tidak membatalkan puasa, dengan menyebutkan faedah-faedah penting, adab-adab, dsb.
 
6. Saling memaafkan dan mendoakan terhadap sesama manusia, teruatama, anak pada orang tuanya, isrti pada suaminya, pemimpin terhadap bawahannya,  atau sebaliknya.
 
7. Persiapan fisik.
Menahan diri untuk tidak makan dan minum seharian penuh selama sebulan tentu memerlukan kekuatan fisik yang tidak sedikit, belum lagi kekuatan yang dibutuhkan untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan shalat tarawih dan shalat sunnah lainnya, ditambah kekuatan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an dan beri’tikaf selama sepuluh hari di akhir Ramadhan. Kesemua hal ini menuntut kita selalu dalam kondisi prima sehingga dapat memanfaatkan Ramadhan dengan optimal dan maksimal. Melakukan puasa sunnah pada sebelum Ramadhan adalah salah satu cara melatih diri untuk mempersiapkan dan membiasakan diri menghadapi Ramadhan. Oleh karenanya Rasulullah Saw. mencontohkan kepada umatnya bagaimana beliau memperbanyak puasa sunnah pada bulan Sya’ban, sebagaimana yang diwartakan Aisyah: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Saw. berpuasa selama sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa (sunah) lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (Muttafaq Alaih).
 
 
 
 
 
 
 
 

.

Inilah beberapa aktiivitas persiapan dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan.  Sedangkan beberapa aktivitas atau amalan yang wajib dan perlu disikapi oleh diri kita, selain dari shaum yang diwajibkan , antara lain sbb;

  1. Mengkhatamkan Al-Qur’an

Bulan Ramadhan adalah bulan Al-Quran. Pada bulan inilah Al-Qur’an pertama kali turun dari lauhul mahfuz ke langit dunia sekaliagus. Allah berfirman:

 
 

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)(al baqarah: 185)

 
 

Ibnu Abbas RA berkata; "Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawanannya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawanan Nabi melebihi angin yang berhembus."

 

Hadist tersebut menganjurkan kepada setiap muslim agar bertadarus al-Quran, dan berkumpul dalam majlis al-Quran dalam bulan Ramadhan. Membaca dan belajar al-Qur'an bisa dilakukan di dihadapan orang yang lebih mengerti atau lebih hafal al-Quran. Dianjurkan pula untuk memperbanyak membaca al-Quran di malam hari.

 

Dalam hadist di atas, mudarosah antara Nabi Muhammad saw dan Malaikat Jibril terjadi pada malam hari, karena malam tidak terganggu oleh pekerjaan-pekerjaan keseharian. Di malam hari, hati seseorang juga lebih mudah meresapi dan merenungi amalan dan ibadah yang dilakukannya.

  1. Shalat tarawih

Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa yang menghidupkan malam bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Shalat tarawih atau qiyam Ramadhan tidak ada batasannya. Sebagian orang mengira shalat tarawih tidak boleh kurang dari 20 rakaat, sebagian lain mengira tidak boleh lebih dari 11 atau 13 rakaat. Ini adalah pendapat keliru yang menyalahi dalil. Hadits-hadits menunjukkan bahwa shalat malam adalah perkara yang luas, tidak ada batasan yang tidak boleh dilanggar. Bahkan ada riwayat yang jelas mengatakan bahwa nabi Saw. pernah shalat 11 rakaat, terkadang 13 rakaat atau kurang dari itu. Ketika ditanya tentang shalat malam beliau bersabda: “Dua rakaat dua rakaat, jika seseorang diantara kalian khawatir masuk waktu subuh hendaklah shalat satu rakaat witir.”

  1. Memperbanyak doa

Orang yang berpuasa ketika berbuka adalah salah satu orang yang doanya mustajab. Oleh karenanya perbanyaklah berdoa ketika sedang berpuasa terlebih lagi ketika berbuka. Berdoalah untuk kebaikan diri kita, keluarga, bangsa, dan saudara-saudara kita sesama muslim di belahan dunia.

  1. Memberi buka puasa (tafthir shaim)

Hendaknya berusaha untuk selalu memberikan ifthar (berbuka) bagi mereka yang berpuasa walaupun hanya seteguk air ataupun sebutir korma sebagaimana sabda Rasulullah yang berbunyi:" Barang siapa yang memberi ifthar (untuk berbuka) orang-orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa dikurangi sedikitpun". (Bukhari Muslim)

  1. Memperbanyak Bersedekah

Rasulullah Saw. bersabda: “Sebaik-baik sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan” (HR. Tirmizi).

 

Ibnu Abbas RA berkata; "Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawanannya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawanan Nabi melebihi angin yang berhembus."

 

Dan pada akhir bulan Ramadhan Allah mewajibkan kepada setiap muslim untuk mengeluarkan zakat fitrah sebagai penyempurna puasa yang dilakukannya.

  1. I’tikaf

I’tikaf adalah berdiam diri di masjid untuk beribadah kepada Allah. I’tikaf disunahkan bagi laki-laki dan perempuan; karena Rasulullah Saw. selalu beri’tikaf terutama pada sepuluh malam terakhir dan para istrinya juga ikut I’tikaf bersamanya. Dan hendaknya orang yang melaksanakan I’tikaf memperbanyak zikir, istigfar, membaca Al-Qur’an, berdoa, shalat sunnah dan lain-lain.

  1. Umroh

Ramadhan adalah waktu terbaik untuk melaksanakan umrah, karena umroh pada bulan Ramadhan memiliki pahala seperti pahala haji bahkan pahala haji bersama Rasulullah Saw. Beliau bersabda: “Umroh pada bulan Ramadhan seperti haji bersamaku.

  1. Memperbanyak berbuat kebaikan

Bulan Ramadhan adalah peluang emas bagi setiap muslim untuk menambah ‘rekening’ pahalanya di sisi Allah. Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dan Baihaki dikatakan bahwa amalan sunnah pada bulan Ramadhan bernilai seperti amalan wajib dan amalan wajib senilai 70 amalan wajib di luar Ramadhan. Raihlah setiap peluang untuk berbuat kebaikan sekecil apapun meskipun hanya ‘sekedar’ tersenyum di depan orang lain. Ciptakanlah kreasi dan inovasi dalam berbuat kebaikan agar saldo kebaikan kita terus bertambah.

 

Inilah beberapa nilai, kesiapan, dan sikap diri kita dalam menghadapi Ramadhan.  Sudahkan diri kita mempersiapkan menyambut Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya menurut tuntunan Allah dan Rasul-Nya?  Sudahkan menyambut dan menerima kedatangan Ramadhan dengan hati yang tulus-ikhlas? Sudahkan kita melakukan  evaluasi diri secermat mungkin terhadap perilaku kita yang lalai, keliru dan salah pada waktu Ramadhan yang  lalu? Dan maukah kita memperbaikinya? Semoga tulisan ini menjadi sarana perenungan, (tafakur) evaluasi diri  dan auto-kritik (muhasabah) dan  sungguh-sungguh dalam menyambut, dan menajalankan ibadah-ibadah Ramadhan dan kualitas-kualitasnya.  Wallahu a”lam  bi al-Shawab. Amin ya Mujibassailin.



[1] Direktur  Lembaga Pengkajian dan Penerapan Tauhid Universitas Djuanda Bogor dan Dosen Tetap Fakultas Studi Islam Universitas Djuanda Bogor.

 

[2] Keragaman sikap ini, penulis temukan secara empiris dalam masyarakat. Pengklasifikasian sikap dan penamaan istilah  hanyalah persepsi penulis.

 

[3] Imam al-Ghozali menggunakan istilah-istilah  ini untuk tingkatan shaum bagi orang yang melaksanakan shaum.

 

[4] Lihat  Ibnu Muhammad, Puasa Bersama Rasulullah Saw, Pustaka Al-Bayan Mizan.

 

Masjid

 
Joomla Templates and Joomla Extensions by ZooTemplate.Com
News - Berita Terakhir: Kebangkitan Nasional 2013 - Senin, 20 Mei 2013 08:02
News - Berita Terakhir: Youtube aktif di @unida.ac.id - Selasa, 07 Mei 2013 13:19
News - Berita Terakhir: Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2013 - Kamis, 02 Mei 2013 08:53
Artikel - Iptek: Project Glass - Sabtu, 27 April 2013 08:07
News - Berita Terakhir: Beasiswa bagi siswa berprestasi 2013 - Kamis, 25 April 2013 15:26
News - Berita Terakhir: Rangking Universitas Djuanda di Webometric Januari 2013 - Kamis, 04 April 2013 08:52
News - Berita Terakhir: Seminar Ilmiah “Kajian Studi Islam Kontemporer” - Rabu, 03 April 2013 06:25
News - Berita Terakhir: Milad Ke-26 dan Wisuda Ke-XXVIII Universitas DJuanda - Selasa, 26 Maret 2013 15:27
News - Berita Terakhir: KOMPETENSI AUDITOR HALAL INTERNAL PELATIHAN - Minggu, 17 Maret 2013 18:07
News - Berita Terakhir: Unida Tuan Rumah Seminar Nasional HIMAPIKANI - Minggu, 17 Maret 2013 17:58
News - Berita Terakhir: Kegiatan Pendidikan Cinta Lingkungan Usia Dini MAPALA UNIDA - Minggu, 10 Maret 2013 23:46
News - Berita Terakhir: STADIUM GENERAL DAN PELANTIKAN PROF. HAIDAR SEBAGAI GURU BESAR UNIDA - Sabtu, 23 Februari 2013 11:47
News - Berita Terakhir: Pelatihan Wirausaha - Selasa, 19 Februari 2013 09:34
News - Berita Terakhir: Januari 2013, Universitas Djuanda ke 7030, Rangking Web of World Universities - Senin, 11 Februari 2013 21:50
News - Berita Terakhir: Seminar Hasil Penelitian Dosen - Rabu, 30 Januari 2013 09:26
News - Berita Terakhir: Presentasi Lancar, Awal Kesuksesan - Senin, 28 Januari 2013 14:13
News - Berita Terakhir: Berpacu di Tengahnya Derasnya Teknologi - Senin, 28 Januari 2013 13:42
News - Berita Terakhir: Foto-Foto Maulid Nabi - Rabu, 23 Januari 2013 11:12
News - Berita Terakhir: MAULID AKBAR - Rabu, 23 Januari 2013 08:33
News - Berita Terakhir: Penandatanganan MoU Badiklit Kesos dan Universitas Djuanda - Sabtu, 12 Januari 2013 06:34
News - Berita Terakhir: Pagelaran Seni UNIDA - Ani Mudik Bersama Budi - Selasa, 11 Desember 2012 05:17
News - Berita Terakhir: GISANADA - Rabu, 28 November 2012 09:39
News - Berita Terakhir: Santunan Anak Yatim - Selasa, 27 November 2012 10:30
News - Berita Terakhir: Wisata Halal - Selasa, 20 November 2012 13:58
News - Berita Terakhir: “GENERASI MUDA BERSATU PERANGI NARKOBA, INDONESIA BISA” - Selasa, 06 November 2012 13:56
News - Berita Terakhir: Acara Pemotongan Hewan Qurban 1433 H - Senin, 29 Oktober 2012 09:20
News - Berita Terakhir: Launching Fakultas Ilmu Pangan Halal Universitas Djuanda - Senin, 22 Oktober 2012 10:25
News - Berita Terakhir: International Seminar "Halal is a New Frontier For Global Trading" - Jumat, 19 Oktober 2012 10:42
News - Berita Terakhir: Kunjungan Prof. Fasli Jalal, Ph.D - Kamis, 18 Oktober 2012 17:55
News - Berita Terakhir: Upacara Kesadaran Nasional Oktober 2012 - Kamis, 18 Oktober 2012 13:16

Pilihan Bahasa

Pengunjung Online

Kami memiliki 26 Tamu online

Pengunjung

462113
Hari iniHari ini152
KemarinKemarin1416
Minggu iniMinggu ini3092
Bulan iniBulan ini6664
TotalTotal462113
Statistik created: 2013-05-22T02:27:23+07:00