MARHABAN YA RAMADHAN 1433 H; NILAI KESIAPAN DAN SIKAP DIRI
OLEH AMIR MAHRUDIN[1]
Sebelum melanjutkan tulisan ini, UNIVERSITAS DJUANDA BOGOR TERLEBIH DAHULU MENGUCAPKAN, “MARHABAN YA RAMADHAN, selamat datang wahai Ramadhan, Dengan izin-Mu ya Allah, kami sambut dan kami jemput bulan-Mu yang agung dan penuh berkah ini dengan penuh keikhlasan. Berkahilah kami, kuatkanlan kami, dan berilah kami kesabaran serta tetapkanlah kami dalam keimanan dan ketakwaan. Amin ya Mujibassailin!
Kedatangan bulan Ramadhan dalam masyarakat muslim Indoensia disikapi dengan sikap-sikap yang berbeda, yaitu;[2]
- Sikap muslim super-genius” (khususil khusus)[3] adalah sikap muslim yang menyambutnya penuh dengan kegembiraan, suka-cita, semangat, dan motivasi yang kuat dalam menyongsong kedatangannya, berhati ikhlas dan sabar menjalankan ibadah-ibadah di dalamnya. Ia tidak mau melewatkan waktu sedikit pun berlalu, tanpa mencari keridhoan Allah SWT, bahkan kedatangannya sangat dirindukan, kalau bisa seluruh bulannya adalah Ramadhan. Inilah sikap mukmin sejati yang istiqomah dengan keimanannya. Ramadhan baginya merupakan “tamu istimewa” dan bulan yang sangat mulia. Sebab, di dalamnya berisikan keberkahan. Maksudnya, bulan yang ditambahkan dan dilipat-gandakannya kualitas-kualitas kebaikan, sedangkan keburukan tidak dilipat-gandakannya, tetapi sesuai dengan kualitas keburukan yang dilakukannya. Ia menyambut dan menerima kedatangan bulan Ramadhan bukan hanya dengan fisiknya saja, melainkan juga dengan hati, ruh, dan sepenuh jiwanya.
- Sikap muslim yang “genius” (Sikap khusus). ia menyambut dan menerimanya dengan biasa-hati terbuka untuk menjalankan segala titah-Nya sebagai kewajiban yang mesti dilakukan oleh dirinya.. Oleh karena itu, perilakunya standar-standar saja dalam menyambut dan menjalankannya.
- Sikap muslim yang “normal” (sikap muslim yang umum). Ia menyambutnya dengan biasa-biasa saja, ikut meramaikan kedatangannya dengan hal-hal yang bersifat fisik,, seperti membakar petasan, makan sama-sama (orang sunda menyebutnya , cucurak), berlibur dan hiburan terlebih dahulu, dsb.
- Sikap muslim yang idiot, yaitu sikap muslim yang lemah dan “sinis”. Terhadap kedatangan bulan Ramadhan. Sebab, dianggapnya adalah “bulan lapar” dan menyengsarakan. Indikator perilakunya, seperti menjalankan ibadah “shaum” di awal bulan Ramadhan, selanjutnya tidak menjalankan lagi, di rumah ikut sahur, tetapi ketika berada di pasar atau di kantor, ia tidak shaum, sedangkan bila tiba di rumah, ikut buka shaum, bahkan terang-terangan tidak menjalankan shaum, dengan cara makan dan minum, dsb di depan umum. Silahkan kita melakukan tafakur dan merenungkan, termasuk sikap yang manakah diri kita masing-masing?
Untuk menyambut bulan Ramadhan ini, agar kita memiliki niat, motivasi dan semangat yang kuat, marilah kita melakukan tafakur (berpikir dan merenungkan), muhasabah ( melakukan auto-krtik dan koreksi diri), dan mujahadah (sungguh-sungguh), kita simak dengan seksama khutbah Rasulullah Saw. ketika menyambut bulan Ramadhan yang berisikan nasehat dan pesan-pesan sebagai berikut;[4]
( H.R. Ibnu Huzaimah)
Selain itu, beberapa Hadis yang relevan dengan Taushiyah Ramadhan Nabi tersebut, yaitu;
كَانَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ يَقُوْلُ: (( قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، كَتَبَ الله عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، فِيْهِ تُفْتَحُ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوِابُ الجَحِيْمِ، وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ، فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ )) رواه أحمد والنسائي.
“Rasulullah saw. biasanya memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa.” (H.R. Ahmad dan An Nasa’i). 2. Dari Ubadah bin Ash Shamit, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: :
(( أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرُ بَرَكَةٍ، يَغْشَاكُم الله فِيْهِ، فَيُنَزِّلُ الرَّحْمَةَ، وَيَحُطُّ الخَطَايَا، وَيَسْتَجِيْبُ فِيْهِ الدُّعَاءَ، يَنْظُرُ الله إِلَى تَنَافُسِكُمْ فِيْهِ، وَيُبَاهِي بِكُمْ مَلاَئِكَتَهُ، فَأَرُوْا الله مِنْ أَنْفُسِكُمْ خَيْرًا، فَإِنَّ الشَّقِيَّ مَنْ حُرِمَ فِيْهِ رَحْمَةَ الله )) رواه الطبراني ورواته ثقات.
“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, mengahapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan Dia membangga-banggakanmu kepada malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang-orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini.” (H.R. Ath Thabrani, dan periwayatnya tsiqah).
“Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu: bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kasturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah Azza Wajalla setiap hari menghiasai surganya lalu berfirman (kepada surga): “hampir tiba saatnya para hambaku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu.” Pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada umatku ampunan pada akhir malam.” Beliau ditanya: “Wahai Rasulullah apakah malam itu lailatul Qadar? Jawab beliau: “Tidak. Namun orang yang beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalnya. (HR. Ahmad). Berdasarkan pada Hadis dan Khutbah yang berisikan taushiyah Rasulullah Saw di atas dalam menyambut kedatangan Ramadhan, maka memberikan indikasi bahwa kita perlu mempersiapkan diri dan mengembangkan sikap yang selaras dengan taushiyah tersebut, agar pelaksanaan ibadah-ibadah pada bulan Ramadhan memiliki makna dan berkualitas. Bagaimana cara mempersiapkan diri kita dalam rangka menyambut Ramadhan? Dan Bagaimana sikap diri kita yang semestinya ketika mengisi dan menjalankan ibadah-ibadah pada bulan Ramadhan. |
Hal-hal yang perlu dipersiapkan oleh diri kita dalam rangka menyambut kedatangan Ramadhan, antara lain sebagai berikut :
1. Berdoa untuk Menyambut Kedatangannya, sebagaimana Ali bin Abi Thalib berdoa;
أللهم ادخله علينا بالسلامة من اللأسقام والفراغ من الأشغال ورضّنا فيه باليسير من النوم
Ya Allah masukkanlah kami ke dalam Ramadhan dengan selamat dari berbagai penyakit, hindarkan kami dari berbagai kesibukan dan hindarkan pula dari rasa cepat mengantuk.
2. Pasang niat yang ikhlas untuk melaksanakannya.
Menjelang Ramadhan datang, tiket kereta api sudah habis terjual, untuk pulang kampung, orang rela antrian berjam-jam, kepanasan, dan kelelasan hanya untuk mendapatkan tiket, karena takut kehabisan, bahkan merencanakan untuk pergi hiburan dan tamasya. Terkadang kita disibukkan oleh hal-hal yang tidak menyentuh hakikat Ramadhan, tetapi hal-hal yang bersifat hedonis dan pragmatis, sehingga terkikis memiliki niat yang ikhlas untuk menyambut Ramadhan. Oleh karena itu, wajar jika puluhan kali Ramadhan menghampiri dan melaksanakan ishaum, kurang bahkan mungkin tidak memberikan pengaruh positif pada dirinya seakan-akan ibadah Ramadhan hanya sekedar ritual belaka, sekedar ajang untuk menggugurkan kewajiban tanpa menghayati dan meresapi esensi ibadah tersebut, jika Ramadhan berlalu ia kembali kepada kondisinya semula. Pasanglah niat yang ikhlas untuk menjadikan Ramadhan kali ini dan selanjutnya sebagai mukmin untuk menghasilkan berbagai macam kebaikan dan memetik kualitas takwa. Anggaplah Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan terakhir yang kita lalui karena kita tidak bisa menjamin kita akan bertemu Ramadhan di tahun-tahun berikutnya. Tanamkan tekad yang disertai dengan keikhlasan untuk konsisten dalam beramal saleh dan beribadah pada bulan Ramadhan ini. Rasulullah Saw. menjelaskan: “Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan ikhlas maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu.”
3. Melakukan Taubatan Nasuha (Taubat yang sungguh-sungguh).
“Setiap manusia adalah pendosa dan sebaik-baik pendosa adalah yang bertaubat” demikian sabda Rasulullah Saw. seperti yang diwartakan Ahmad dan Ibnu Majah.
Di antara karunia Allah adalah selalu mengulang-ulang kehadiran momen-momen kebaikan. Ada momen yang diulang setiap pekan, bulan, tahun dan lain-lain. Ramadhan adalah salah satu dari momen tersebut yang selalu datang setiap tahun. Ketika seorang hamba tenggelam dalam kelalaian karena harta benda, anak istri, dan perhiasan dunia lain yang membuat dia lupa kepada Rabbnya, terbius dengan godaan setan, dan terjatuh ke dalam berbagai macam bentuk maksiat datang bulan Ramadhan untuk mengingatkannya dari kelalaiannya, mengembalikannya kepada Rabbnya, dan mengajaknya kembali memperbaharui taubatnya. Ramadhan adalah bulan yang sangat layak untuk memperbarui taubat; karena di dalamnya dilipatgandakan kebaikan, dihapus dan diampuni dosa, dan diangkat derajat. Jika seorang hamba selalu dituntut untuk bertaubat setiap waktu, maka taubat pada bulan Ramadhan ini lebih dituntut lagi; karena Ramadhan adalah bulan mulia waktu dimana rahmat-rahmat Allah turun ke bumi. Mana para pendosa? Mana orang-orang yang melampaui batas? Mana orang-orang yang selalu bermaksiat kepada Allah siang malam? Mana orang-orang yang membalas nikmat Allah dengan maksiat, memerangi Allah di bumi-Nya, dan menentangnya dalam kekuasan-Nya? Segeralah bertaubat! Karena tak satu pun dari kita yang bersih dari dosa dan bebas dari maksiat. Pintu taubat selalu terbuka dan Allah senang dan gembira dengan taubat hambanya. Taubat yang sungguh-sungguh atau taubat nasuha adalah dengan meninggalkan maksiat yang dilakukan, menyesali apa yang telah dilakukan, dan berjanji untuk tidak kembali mengulangi maksiat tersebut, dan jika dosa yang dilakukannya berkaitan dengan hak orang lain hendaknya meminta maaf dan kerelaan dari orang tersebut.
5. Mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan hukum-hukum seputar Ramadhan.
.
Inilah beberapa aktiivitas persiapan dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan. Sedangkan beberapa aktivitas atau amalan yang wajib dan perlu disikapi oleh diri kita, selain dari shaum yang diwajibkan , antara lain sbb;
- Mengkhatamkan Al-Qur’an
Bulan Ramadhan adalah bulan Al-Quran. Pada bulan inilah Al-Qur’an pertama kali turun dari lauhul mahfuz ke langit dunia sekaliagus. Allah berfirman:
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)(al baqarah: 185)
Ibnu Abbas RA berkata; "Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawanannya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawanan Nabi melebihi angin yang berhembus."
Hadist tersebut menganjurkan kepada setiap muslim agar bertadarus al-Quran, dan berkumpul dalam majlis al-Quran dalam bulan Ramadhan. Membaca dan belajar al-Qur'an bisa dilakukan di dihadapan orang yang lebih mengerti atau lebih hafal al-Quran. Dianjurkan pula untuk memperbanyak membaca al-Quran di malam hari.
Dalam hadist di atas, mudarosah antara Nabi Muhammad saw dan Malaikat Jibril terjadi pada malam hari, karena malam tidak terganggu oleh pekerjaan-pekerjaan keseharian. Di malam hari, hati seseorang juga lebih mudah meresapi dan merenungi amalan dan ibadah yang dilakukannya.
- Shalat tarawih
Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa yang menghidupkan malam bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Shalat tarawih atau qiyam Ramadhan tidak ada batasannya. Sebagian orang mengira shalat tarawih tidak boleh kurang dari 20 rakaat, sebagian lain mengira tidak boleh lebih dari 11 atau 13 rakaat. Ini adalah pendapat keliru yang menyalahi dalil. Hadits-hadits menunjukkan bahwa shalat malam adalah perkara yang luas, tidak ada batasan yang tidak boleh dilanggar. Bahkan ada riwayat yang jelas mengatakan bahwa nabi Saw. pernah shalat 11 rakaat, terkadang 13 rakaat atau kurang dari itu. Ketika ditanya tentang shalat malam beliau bersabda: “Dua rakaat dua rakaat, jika seseorang diantara kalian khawatir masuk waktu subuh hendaklah shalat satu rakaat witir.”
- Memperbanyak doa
Orang yang berpuasa ketika berbuka adalah salah satu orang yang doanya mustajab. Oleh karenanya perbanyaklah berdoa ketika sedang berpuasa terlebih lagi ketika berbuka. Berdoalah untuk kebaikan diri kita, keluarga, bangsa, dan saudara-saudara kita sesama muslim di belahan dunia.
- Memberi buka puasa (tafthir shaim)
Hendaknya berusaha untuk selalu memberikan ifthar (berbuka) bagi mereka yang berpuasa walaupun hanya seteguk air ataupun sebutir korma sebagaimana sabda Rasulullah yang berbunyi:" Barang siapa yang memberi ifthar (untuk berbuka) orang-orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa dikurangi sedikitpun". (Bukhari Muslim)
- Memperbanyak Bersedekah
Rasulullah Saw. bersabda: “Sebaik-baik sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan” (HR. Tirmizi).
Ibnu Abbas RA berkata; "Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawanannya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawanan Nabi melebihi angin yang berhembus."
Dan pada akhir bulan Ramadhan Allah mewajibkan kepada setiap muslim untuk mengeluarkan zakat fitrah sebagai penyempurna puasa yang dilakukannya.
- I’tikaf
I’tikaf adalah berdiam diri di masjid untuk beribadah kepada Allah. I’tikaf disunahkan bagi laki-laki dan perempuan; karena Rasulullah Saw. selalu beri’tikaf terutama pada sepuluh malam terakhir dan para istrinya juga ikut I’tikaf bersamanya. Dan hendaknya orang yang melaksanakan I’tikaf memperbanyak zikir, istigfar, membaca Al-Qur’an, berdoa, shalat sunnah dan lain-lain.
- Umroh
Ramadhan adalah waktu terbaik untuk melaksanakan umrah, karena umroh pada bulan Ramadhan memiliki pahala seperti pahala haji bahkan pahala haji bersama Rasulullah Saw. Beliau bersabda: “Umroh pada bulan Ramadhan seperti haji bersamaku.”
- Memperbanyak berbuat kebaikan
Bulan Ramadhan adalah peluang emas bagi setiap muslim untuk menambah ‘rekening’ pahalanya di sisi Allah. Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dan Baihaki dikatakan bahwa amalan sunnah pada bulan Ramadhan bernilai seperti amalan wajib dan amalan wajib senilai 70 amalan wajib di luar Ramadhan. Raihlah setiap peluang untuk berbuat kebaikan sekecil apapun meskipun hanya ‘sekedar’ tersenyum di depan orang lain. Ciptakanlah kreasi dan inovasi dalam berbuat kebaikan agar saldo kebaikan kita terus bertambah.
Inilah beberapa nilai, kesiapan, dan sikap diri kita dalam menghadapi Ramadhan. Sudahkan diri kita mempersiapkan menyambut Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya menurut tuntunan Allah dan Rasul-Nya? Sudahkan menyambut dan menerima kedatangan Ramadhan dengan hati yang tulus-ikhlas? Sudahkan kita melakukan evaluasi diri secermat mungkin terhadap perilaku kita yang lalai, keliru dan salah pada waktu Ramadhan yang lalu? Dan maukah kita memperbaikinya? Semoga tulisan ini menjadi sarana perenungan, (tafakur) evaluasi diri dan auto-kritik (muhasabah) dan sungguh-sungguh dalam menyambut, dan menajalankan ibadah-ibadah Ramadhan dan kualitas-kualitasnya. Wallahu a”lam bi al-Shawab. Amin ya Mujibassailin.
[1] Direktur Lembaga Pengkajian dan Penerapan Tauhid Universitas Djuanda Bogor dan Dosen Tetap Fakultas Studi Islam Universitas Djuanda Bogor.
[2] Keragaman sikap ini, penulis temukan secara empiris dalam masyarakat. Pengklasifikasian sikap dan penamaan istilah hanyalah persepsi penulis.
[3] Imam al-Ghozali menggunakan istilah-istilah ini untuk tingkatan shaum bagi orang yang melaksanakan shaum.
[4] Lihat Ibnu Muhammad, Puasa Bersama Rasulullah Saw, Pustaka Al-Bayan Mizan.

















