Bismillah.
“Syarat Tauhid”
Oleh : Mulyanto Tukiman
Kalimat Tauhid La ilahailallah Muhammad Rasulallah merupakan kalimat peniadaan 4 (empat ) perkara dan penetapan 4 (empat) perkara, yaitu :
1. 4 (empat) perkara yang ditiadakannya adalah sesembahan, taghut, tandingan dan tuan;
2. 4 (empat) perkara yang ditetapkannya adalah tujuan akhir, kecintaan, rasa takut dan pengharapan.
Pengertian :
· Sesembahan, adalah apa-apa yang dimaksudkan dapat mendatangkan kebaikan atau menyingkirkan bahaya sedikitpun lalu menjadikan sebagai sesembahan;
· Taghut, adalah orang yang rela disembah dan dia disembah atau berharap untuk disembah;
· Tandingan, adalah apa-apa yang membuat kita terlena dari Islam entah itu keluarga, tempat tinggal, sanak saudara ataupun harta benda. Semua ini merupakan tandingan sebagaimana firman Alloh SWT : “ Dan diantara manusia ada yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh; mereka mencintainya sebagaimana layaknya mereka cinta Alloh” ( Surat Al-Baqarah ayat : 165);
· Tuan, adalah orang yang faqtwa kepadamu yang menyalahi kebenaran dan kamu mentaatinya sebagaimana firman Alloh SWT. “ Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai robb selain Alloh” (Surat At-Taubah ayat 31);
· Tujuan Akhir artinya apa yang kita tuju hanya Alloh SWT. Semata;
· Kecintaan adalah sebagimana firman Alloh SWT. “ Dan orang-orang beriman amat cinta kepada Alloh” ( Surat Al-Baqarah ayat 165);
· Rasa takut dan pengharapan adalah seperti firman Alloh SWT. “ Dan jika Alloh menimpahkan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya kecuali Dia (Alloh). Dan jika Alloh menghendaki kebaikan bagimu maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Alloh memberikan kebaikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya dan Alloh yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Surat Yunus ayat 107)
Syarat-Syarat La ilaha Illallah
Sebagai orang muslim yang taat kepada Alloh dan Rasul-nya untuk memahami kalimat bahwa keutamaan kalimat “La Ilaha illallah” adalah bukan hanya pada hitungan pengucapan dan hafalan saja, sebagaimana seorang yang terpecaya yaitu Wahd bin Munabbih pernah ditanya :”Bukankah La Ilaha ilallah merupakan kunci sorga ? “ Wahb menjawab, “Benar, tetapi tidak ada kunci kecuali ia mempunyai gigi-gigi. Apabila engkau datang sambil membawa kunci yang ada gigi-giginya, maka sorga akan dibukakan bagimu. Jika tidak, maka sorga tidak akan dibukakan untukmu”. (H.R. Al-Bukkhary dalam kitabul jana’z, (3 : 109)).
Yang dimaksudkan dengan gigi-gigi disini adalah syarat-syarat La Ilaha illallah, yaitu :
Syarat ke Satu :
Mengetahui makna yang dimaksudkannya, baik yang dinafikan maupun yang ditetapkan sehingga kebodohan sirna.
“Maka ketahuilah sesunggunya tidak ada ila (sesembahan) melainkan Alloh” (Surat Muhammad ayat 19). Dan Firman Alloh SWT.”dan tidaklah memiliki syafaat (pertolongan) orang-orang yang menyeru selain Alloh, kecuali orang yang bersaksi denga haq (benar) dan mereka memahami” (Qur’an surat Az-Zukhruf :86).
Maksudnya dengan kalimat La ilaha illallah, mereka mengetahui dan membenarkan dalam hati mereka, apa yang mereka ucapkan dengan lidahnya. Sebagaimana firman Alloh yang menyatakan; “Bersaksi Alloh bahwa sesungguhnya tiada illa (sesembahan) selain IA Alloh dan para malaikat dan orang-orang yang berilmu tegak dengan keadilan tiada illa (sesembahan) melainkan IA Alloh yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Qur’an Surat Ali Imran :18).
Rasulullah bersabda : “Barangsiapa mati sedang ia memahami bahwa sesunggunya tiada illah (sesembahan) selain Alloh, maka ia masuk sorga”. (Sahih Muslim, Kitabul-Iman, juz 1 halaman 55, hadis nomor 26).
Ucapan La ilaha ilallah menjadi jaminan bagi orang yang mengucapkannya untuk masuk sorga. Tetapi bukan berarti ia langsung masuk sorga hanya karena ucapan Lai illaha illah. Semua amalnya akan dihisab, yang baik akan mendapat ganjaran baik, dan yang buruk akan mendapatkan ganjaran yang setimpal.
Syarat ke Dua :
Adanya keyakinan yang dapat menafikan keraguan. Artinya orang yang mengucapkan kalimat ini harus meyakini pengertian didalamnya dengan sebenar-benarnya
Iman tidak sempurna kecuali dilengkapi dengan ilmu yang YAKIN bukan PERSANGKAAN dan KERAGUAN. Mengingat firman Alloh bahwa. “Sesungguhnya orang-orang iman hanyalah orang-orang yang iman kepada Alloh dan Rasul-Nya, kemudian mereka tiada ragu dan mereka berjihat dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Alloh Mereka itulah orang-orang yang benar”. (Qur’an Surat Al-Hujurat :15).
Kita mencermati sabda Rasullallah SAW, “Aku bersaksi bahwa tiada illah (sesembahan) selain Alloh dan sesungguhnya aku adalah Rasul Alloh. Dengan dua kesaksian ini dan tiada ragu tentang keduanya, seorang hamba tidak akan bertemu Alloh kecuali ia masuk sorga”. (Sahih Muslim, Kitabul-Iman, Juz 1 halam 56, hadis nomor 57).
Syarat ke Tiga :
Menerima apa yang dituntut kalimat ini dari hati dan lisannya.
“Dan demikianlah, kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pada suatu negeri, melainkan pemuka-pemukanya berkata : Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami yang menganut suatu tatacara dan sesungguhnya kami mengikuti mereka. Rasul berkata : apakah kamu akan mengikuti juga sekalipun aku membawa untuk kamu tatacara yang lebih nyata memberi petunjuk dari pada apa yang kamu dapati atas bapak-bapak kamu ? mereka menjawab : sesungguhnya kami mengingkari apa-apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya. Maka kami (Alloh) binasakan mereka. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan”. (Qur’an Surat Az-Zukhruf :23-25).
“Kemudian kami (Alloh) selamatkan rasul-rasul kami dan orang-orang iman. Demikianlah menjadi kewajiban atas kami (Alloh) menyelamatkan orang-orang yang beriman” (Qur’an Surat Yunus :103).
“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan pada mereka : “La ilaha illallah” mereka menyombongkan diri dan mereka berkata : “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami, karena seorang penyair gila ?” (Qur’an Surat Ash-Shaffat :35-36)
Syarat ke Empat :
Tunduk dan berserah diri kepada apa yang ditunjukannya serta meninggalkan apa yang dinafikannya.
“Dan kembalilah kamu pada rabbmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang kepadamu azab kemudian kamu tidak dapat ditolong”. (Qur’an Surat Az-Zumar :54).
“Dan siapa yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Alloh, sedang ia mengerjakan kebaikan dan mengikuti agama Ibrahim yang luhur”. (Qur’an Surat An-Nissa :125).
Rasullallah bersabda : “ Tidak beriman kamu sekalian sampai ada hawa nafsunya mengikuti apa yang aku sampaikan (sunah-Ku)”. (H.R. Arbain Annawawiyah) Inilah yang dimaksud kesempurnaan berpasrah diri dan tujuan yang dikehendakinya sebagaimana firman Alloh SWT. “maka demi Robbmu tidaklah mereka beriman hingga ia berhukum padamu tentang apa-apa yang mereka pertentangkan diantara mereka kemudian mereka tidak menjumpai dalam diri mereka sempit (penolakan) dari apa yang kau putuskan dan berserah diri dengan sungguh-sungguh”.
Menurut tafsir Ibnu Katsir : Alloh bersumpah pada dirinya karena ia mulia lagi suci, bahwa seseorang belum beriman bila belum mengangkat Rasulallah sebagai pemberi putusan dalam segala urusan. Apa yang telah diputuskan rasul adalah benar dan harus dipatuhi lahir maupun batin.
Syarat ke Lima :
Adanya kebenaran yang dapat menafikkan kedustaan.
Mengucapkan kalimat tauhid dari hati nurani-nya. Apa yang diucapkan lidahnya dibenarkan oleh hatinya. Mengingat firman Alloh SWT yang mengingatkan kepada kita, bahwa ; ”Apakah manusia memiliki perhitungan jika mereka dibiarkan setelah mengucapkan “beriman kami” dan mereka tidak diuji ?”.
“Dan sungguh kami uji orang-orang dari sebelum mereka agar tahu pasti Alloh terhadap orang-orang jujur dan pasti tahu Alloh terhadap orang-orang dusta”. (Qur’an Surat Al-Ankabut :1-3).
“Dan sebagian dari manusia ada orang-orang yang brekata sungguh beriman aku pada Alloh dan pada hari kebangkitan dan mereka tiada beriman”
“Mereka menghina Alloh dan orang iman dan tidak dapat penipu mereka kecuali pada jiwa mereka sendiri dan mereka tidak mengerti”
“Di beberapa hati mereka sakit maka menambah Alloh pada beberapa sakit dan bagi mereka siksa yang pedih sebab mereka mendustakan” (Qur’an Surat Al-Baqarah : 8 – 10)
Rasulallah bersabda dalam 2 kitab shahih bukhary juz 1 halaman 226 & 128 : “Tiada seorangpun bersaksi bahwa tiada Ila (sesembahan) kecuali Alloh dan sesungguhnya Muhammad itu Rasulallah secara jujur dari hatinya hanyalah Alloh mengharamkan neraka”.
Ibnul Qayyim berkata : Pembenaran dengan “La ilaha illallah” menuntun pengakuan dan penetapan hak-hanya berupa syarat-syarat Islam yang merupakan jenjabaran dari kalimat ini. Pembenaran ini harus mencakup semua penggambarannya mengikuti perintah dan menjauhi larangannya. Pada hakekatnya orang yang membenarkan kalimat ini adalah orang yang melakukan semua tuntutannya, sehingga terpelihara harta dan darah seseorang secara mutlak tidak terwujud kecuali dengan kalimat itu dan melaksanakan hak-haknya. Begitu pula keselamatan dari azab secara mutlak tidak terkecuali dengan kalimat itu dan melaksanakan hak-haknya.
Rasulallah bersabda : “Syafa’at-Ku untuk orang yang bersaksi jika tiada Ila (sesembahan) hanyalah Alloh secara murni membenarkan hatinya pada lisannya dan lisannya pada hatinya” (Al-Hakim, kitabul-Iman, Juz 1 halaman 70).
Ibnu Rojak berkata : Orang yang mengucapkan “La ilaha illallah” dengan lisannya kemudian syetan dan hawa nafsunya dalam kedurhakaan pada Alloh dan penentang-penentangnya maka perbuatannya telah mendustakan ucapannya, kesempurnaan tauhidnya jadi berkurang menurut kedurhakaannya kepada Alloh dengan mentaati syetan dan hawa nafsu”.
“Dan siapakah orang yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tanpa mendapat petunjuk dari Alloh sedikitpun.”……”Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Alloh. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Alloh bagi mereka azab yang pedih karena melupakan hari perhitungan”. (Qur’an Surat Al-Qasas :50 dan Qur’an Surat Sad :26)
Syarat ke Enam :
Ikhlas, maksudnya memurnikan “amalan” dengan niat yang baik, terlepas dari noda-noda “syirik.”
“Ingatlah bagi Alloh tatacara yang murni dan orang-orang yang menjadikan pada selain Alloh pelindung atau pemimpin berkata :”kami tidak menyembah mereka hanya mendekatkan kami pada Alloh lebih dekat”. Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk orang dusta lagi kufur”. (Qur’an Surat Az-Zumar :3)
”Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah pada Alloh seraya memurnikan tatacara secara patuh dan menegakkan sholat dan memberikan zakat dan demikian itulah tatacara yang tegak”. (Qur’an Surat Al-Bayyinah :5)
Sabda Nabi Muhammad SAW. Dalam Bukhary Juz 1 halaman 193 dan 199 : “Lebih bahagianya manusia yang mendapat sya’at-Ku orang yang mengucapkan La illaha ilallah secara murni”
Dari Abu Hurairah dan Nabi bersabda dalam shahih Muslim Juz 1 halaman 456 dan 263 : “Sesungguhnya Alloh mengharamkan neraka terhadap orang yang mengucapkan La ilaha ilallah secara benar dan mencari dengan pengamalan zatnya Alloh yang maha perkasa dan maha agung”.
Dari Utbah bin Malik dan sabda Nabi Muhammad SAW.dalam Sunan Nasa’I : ”Siapa yang mengucapkan La ilaha ilallah wahdahu la syarikalahu, lahulmulku wa lahul hamdu wa huwa a’la kulli syaii’in qadir, murni dari hatinya dan lisannya membenarkannya, tiada lain Alloh akan menyibak langit dengan suatu sibakan karena ucapan itu sehingga diantara penduduk bumi melihat kepada orang yang mengucapkannya. Ada hak bagi seorang hamba penglihatan Alloh kepadanya apabila Alloh memberikan permintaannya.”
Al-Fudhail bin Iyadh Iyadh berkata, “Sesungguhnya andaikata suatu amalan ikhlas namun tidak benar, maka amalan itu tidak diterima. Dan andaikan benar tapi tidak ikhlas juga tidak diterima hingga ia ikhlas dan benar. Ikhlas semata karena Alloh dan benar bila sesuai dengan Sunnah yang shoheh.
Syarat ke Tujuh :
Mencintai kalimat tauhid ini, apa yang dituntut apa yang ditunjukkan mencintai.
Pembelanya yang selalu aktif memperhatikan syarat-syaratnya dan membenci apa-apa yang membatalkannya.
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu murtad dari agama atau tatacaranya, maka kelak Alloh akan mendatangkan suatu kaum yang Alloh mencintai mereka dan merekapun mencai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir yang berjihat dijalan Alloh dan yang tidak takut celaan orang yang suka mencela.” (Qur’an surat Al-Maidah :54)
Dalam sebuah hadist shohih Bukhary, Kitabul-Iman Juz 1 halaman 60 nomor hadist 16, Muhammad Rasulullah SAW., bersabda : “ Tiga perkara barangsiapa berada didalamnya maka akan mendapatkan kenikmatan manisnya iman, yaitu :
1. Alloh (Qur’an) dan Rasul (Sunnah) lebih diniati olehnya daripada selain keduanya;
2. Jika ia cinta seseorang, tidak cinta ia pada orang tersebut kecuali karena Alloh;
3. Ia benci jika ia kembali pada kekafiran seperti bencinya ia jika dicemlungkan keapi neraka.
Syaikh Hafid Al Hikam berkata : “Tanda kecintaan hamba kepada Robbnya adalah mendahulukan apa yang dicintai Alloh meskipun hawa nafsu menentangnya. Membenci apa yang dibenci Alloh meskipun hawa nafsu condong padanya. Mengangkat pemimpin orang yang menjadikan Alloh dan Rasul sebagai pemimpin nya memusuhi orang yang memusuhi Alloh mengikuti Rasulallah meniti jejaknya dan menerima petunjuknya.
Ibnul Qayyim berkata “Kita lihat sebagian orang mengaku Islam padahal syirik secara gamblang. Dan mereka menjadikan bagi Alloh sekutu-sekutu, penggambaran dan penyamaan. Mereka menjadikan sebagai kecintaan dan tidak hanya sekedar kekuasaan.
Penulis,
Mulyanto Tukiman, SH.
















