Mendikbud: Konferensi Nasional Sejarah ke-10, Tumbuhkan Rasa Bangga Terhadap Sejarah Indonesia (Universitas Djuanda)

Ahmad Fadil - 17 Nov 2016

Jakarta, Kemendikbud — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menekankan bahwa penyelenggaraan Konferensi Nasional Sejarah ke-10 (KNS X) dapat menumbuhkan rasa bangga kepada generasi muda terhadap sejarah Indonesia. Hal tersebut disampaikannya dalam pembukaan KNS X, di Jakarta, Senin (07/11/2016).

“Indonesia punya modal sejarah yang dapat mencermati dan memaknai masa lalu. Modal sejarah inilah yang perlu kita gunakan sebagai titik tolak membangun kembali rasa bangga bahwa Indonesia adalah bangsa yang jaya di laut,” ucap Mendikbud.

Konferensi Nasional Sejarah merupakan konferensi sejarah yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali. Pada tahun ini diselenggarakan pada tanggal 7 – 10 November 2016, dengan mengangkat tema “Budaya Bahari dan Dinamika Kehidupan Bangsa dalam Perspektif Sejarah”. Dengan tema tersebut dapat menempatkan peran pendidikan menjadi relevan untuk mendekatkan masyarakat tentang pentingnya budaya bahari dan negara maritim.

Selain itu juga, penguatan karakter bangsa melalui pendidikan sejarah perlu terus didorong agar pemahaman visi kelautan dapat dipahami generasi muda. “Melalui kegiatan ini diharapkan sejarah bukan hanya sebagai sebuah ilmu yang jauh dimasa lampau, akan tetapi sejarah juga merupakan titik tolak pendidikan karakter bagi generasi mendatang,” pesan Mendikbud.

Dalam kesempatan ini turut hadir Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani. Dalam sambutannya, Menko PMK menyampaikan apresiasi kepada Kemendikbud dan Asosiasi Masyarakat Sejarawan Indonesia yang telah bergandeng tangan dalam menyukseskan pelaksanaan KNS X.

“Konferensi ini merupakan upaya kita bersama untuk menempatkan peran sejarah secara lebih proposional dalam pembangunan karakter Indonesia,” tutur Menko PMK.

Menko PMK sebelum membuka secara resmi pelaksanaan KNS X, mengingatkan kembali pesan Presiden Republik Indonesia pertama Soekarno, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang memahami dinamika sejarah negaranya. “Yang paling tidak boleh dilupakan adalah harus menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Bung Karno mengingatkan, jangan sekali-sekali melupakan sejarah (Jasmerah),” pesan Menteri Puan.

Konferensi Nasional Sejarah merupakan forum berkumpulnya sejarawan, dosen, guru, mahasiswa, komunitas, dan masyarakat peminat sejarah untuk membahas berbagai aspek isu strategis kesejarahan, baik yang berkaitan dengan pembangunan karakter bangsa, pengajaran sejarah, maupun perkembangan ilmu sejarah itu sendiri. Dalam pelaksanaannya, KNS X menampilkan 100 pemakalah (40 pemakalah undangan dan 60 pemakalah melalui mekanisme seleksi) dengan format pembicara pleno (pembicara kunci) dan sidang panel.

Pleno I pada KNS X membahas tentang “Sejarah Kemaritiman Bangsa sebagai Inspirasi dalam Mengayuh ke Arah Masa Depan yang Gemilang”, dengan narasumber Menko PMK yang disampaikan dalam sambutan pembukaan. Selanjutnya pleno II, membahas tentang “Visi Kelautan Indonesia dari Segi Sejarah” dengan narasumber Hasjim Djalal.

Pada pleno III terdapat dua pembahasan panel secara langsung yang membahas tentang “Maritime, National and Global Histories Some 50-Years Indonesian Reflections”, dengan narasumber Anthony Reid (Australian National University). Pembahasan kedua adalah “A Sea Perspective in The Study of Nusantara, The Sea of Islands”, dengan narasumber Leonard Y. Andaya (University of Hawai’i).

Selanjutnya terdapat juga sidang panel yang membahas tujuh subtema, yakni Jaringan pelayaran nusantara, Sistem pengetahuan dan tradisi bahari, Laut dalam dinamika kekuasaan, dan Laut dalam historiografi tradisional, sastra, dan seni. Subtema berikutnya adalah Berita asing tentan alam nusantara dalam peralihan zaman, dinamika antar daerah dan Negara, serta Pemikiran pendidikan dan pengajaran sejarah.

sumber berita universitas djuanda

sumber : http://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2016/11/mendikbud-konferensi-nasional-sejarah-ke10-tumbuhkan-rasa-bangga-terhadap-sejarah-indonesia