[email protected] 0251-8240773
Ketauhidan

Adab-Adab Merayakan Idul Fitri

Oleh: Dr. Ir. Setyono, M.Si (Dosen Fakultas Pertanian Universitas Djuanda)

Assalaamualaikum wr. wb.

Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah memberi nikmat kepada kita sekalian, sehingga dapat menunaikan shalat dhuhur berjamaah. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarganya, sahabatnya, pengikutnya, khususnya kita sekalian, pendengar setia kuliah bakda dhuhur.

Hadirin yang dimuliakan Allah.

Saya mendapat giliran mengisi kulbakdhu edisi khusus ramadan dengan tema adab merayakan idul fitri. Idul fitri terjadi pada hari pertama di bulan Syawal. Dalam beberapa ceramah kita sering mendengar bahwa idul fitri adalah hari kembalinya kita pada kesucian, tentu dengan catatan bahwa syarat dan ketentuan berlaku. Dalam bahasa kita idul fitri juga disebut lebaran. Lebaran berarti sudah atau berakhir, yaitu berakhirnya puasa ramadan. Oleh sebab itu tidak ada idul fitri kalau tidak puasa, karena akhir puasa hanya ada ketika ada puasa. Jadi adab merayakan idul fitri yang paling utama adalah puasa di bulan Ramadan dan mengisi Ramadan dengan amalan-amalan yang banyak, yang paling utama adalah membaca Al Quran, sebagaimana disampaikan H. Inayatullah saat majelis dhuha tanggal 30 Maret 2023.

Tradisi beribadah di bulan Ramadan yang ada di Jawa antara lain: tadarus (biasanya setelah shalat tarawih), menyediakan makanan bagi yang tadarus (puluran), membagi makanan kepada kerabat dan tetangga (ater-ater) yang sekarang berubah menjadi membagi bingkisan lebaran (sembako), itikaf, dan membayar zakat fitrah di akhir Ramadan.

Prof. Dr. Supan Kusumamiharja (alm), dosen PAI pertama di UNIDA, dalam suatu tausiah mengatakan hendaknya ketika bangun sahur di saat istri menyiapkan makan sahur, suaminya membaca Al Quran. Saat mendengar tausiah itu, bagi saya baru masuk sebagai pengetahuan saja. Setelah dua tahun menyambut Ramadan tanpa keberadaan istri, saya baru sadari bahwa di bulan Ramadan istri itu sering bangun, tidurnya tidak nyenyak khawatir terlewat. Indikatornya adalah saat ini meskipun alarm saya pasang 03:30, biasanya 02:30 saya bangun memanasi nasi, lalu melanjutkan tidur sampai alarm bunyi. Mungkin seperti itu yang dilakukan istri selama 32 tahun. Oleh sebab itu saya berpesan kepada jamaah “Sayangilah istri Anda selagi Anda masih dapat menyayangi istri”.

Saat cucurak tanggal 22 Maret 2023 (sehari sebelum puasa) dengan tim kajian di Kemeneg Kominfo, ada beberapa orang karyawan yang sedang berdiskusi mengenai puasa. Saya sempatkan nimbrung lalu bertanya kepada mereka, “Apa tanda-tanda orang yang berhasil dalam puasa”. Mereka menjawab, “Orang yang dapat mengisi bulan puasa dengan amalan-amalan yang baik dan banyak”. Saya kemudian berkata, “Kalau saat bulan puasa rajin beribadah, tetapi setelah lebaran kembali seperti semula berarti puasanya belum berhasil. Puasa yang berhasil itu seperti tiket bis malam, saat lebaran naik, setelah lebaran turun tetapi tidak ke nilai semula. Contoh tiket Rosalia Indah kelas Super Top ke Ngawi  tahun lalu Rp 330.000, saat lebaran naik menjadi Rp 650.000, setelah lebaran menjadi Rp 380.000. Naik Rp 50.000 dari harga semula. Saat puasa rajin beribadah itu ibarat tiket bis kena tuslag. Setelah puasa memang tidak serajin saat puasa, tetapi lebih rajin dibandingkan sebelum puasa, itu setara dengan tiket bis pasca lebaran.. Seperti itulah orang yang berhasil dalam puasa”.

Tradisi yang juga umum di bulan Ramadan adalah buka puasa bersama. Suatu saat H. Iqbal, ketua DKM Masjid Kaab bin Juhair, di kampung tempat saya tinggal, mengatakan, “Selama bulan puasa jamaah shalat maghrib turun drastis, padahal biasanya shalat lima waktu yang paling banyak jamaahnya adalah maghrib. Apa perlu dipancing dengan buka puasa bersama, ya? Oleh sebab itu mulai besok kita siapkan makanan dan minuman gratis untuk berbuka di masjid”. Saya mengatakan, “Bagi yang berkeluarga, buka puasa paling nikmat adalah di rumah. Kalaupun sekali-sekali buka puasa bersama di kantor atau di komunitasnya, itu hanya sekedar mengikuti acara formal. Yang suka buka puasa  bersama ketimbang buka puasa di rumah hanya yang masih bujangan. Mahasiswa lebih suka buka puasa bersama ketimbang buka puasa di kosannya. Kalau berbuka puasa di kosan sendirian, kalau buka puasa bersama ada teman, ada keluarga maya, dan mungkin gratis.”

Hadirin yang dirahmati Allah.

Lebar dapat juga berarti dengan lapang dada memaafkan. Oleh sebab itu banyak orang di Indonesia yang merayakan idul fitri dengan maaf memaafkan atau dikenal dengan halal bi halal. Ungkapan ini mengandung arti bahwa setiap umat Islam setelah melakukan ibadah puasa selama bulan Ramadan, diharapkan memiliki hati yang lebar, lapang, bebas dari segala dosa, karena juga memberikan kelebaran (membuka) hati untuk memaafkan orang lain, sehingga kembali menjadi fitri (suci) sebagaimana pada kondisi awal manusia dilahirkan (fitrah). Ini mirip menyervis sepeda motor di bengkel resmi (misal nyervis beat di AHASS), yang berupaya mengembalikan sepeda motor ke kondisi 100%. Ungkapan ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW: “Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadan dengan dilandasi iman dan penuh pengharapan kepada Allah, maka segala dosa-dosanya akan diampuni oleh-Nya”.

Tradisi yang mengiringi lebaran adalah “laburan”, berasal dari kata “labur” yang memiliki makna mengecat. Ada kebiasaan bahwa sebelum idul fitri orang yang sudah berumah tangga mengecat rumahnya, menata ulang posisi kursi, lemari, tempat tidur, dan lain-lainnya, sehingga saat lebaran terlihat tampil baru. Ketika istri saya masih hidup biasanya dia sudah membuat jadwal kerja selama libur lebaran, misalnya mencuci gorden, mengecat kusen yang pudar, atau membersihkan pavling blok. Bagi yang masih ngekos, kalaulah tidak melabur rumah, paling tidak ya melabur hati. Selama bulan ramadan hati dilatih dan didandani agar indah dan menawan sehingga dalam tata pergaulan dengan sesama, tidak ada lagi celah kebencian dan prasangka buruk. Melabur software inilah yang dominan saya lakukan dalam dua lebaran terakhir, karena yang menjadwal melabur hardware sudah dipanggil Allah. Al Faatihah.

Tradisi selanjutnya adalah luberan, yang berasal dari kata “luber”, dapat diartikan sebagai tindakan yang loman, dermawan, suka berbagi, berempati, dan bersimpati pada orang lain yang membutuhkan pertolongan. Sikap luber dengan berzakat fitrah sebelum idul fitri menjadi kewajiban bagi setiap muslim. Selanjutnya disambung dengan zakat maal sesuai kadar dan waktu pelaksanaannya. Wujud keluberan hendaknya dapat diterjemahkan dalam solidaritas sosial yang lebih nyata, karena sesungguhnya kegembiraan itu tidak hanya terjadi pada saat menerima melainkan juga dapat terjadi pada saat memberi. Bahkan dalam hubungan suami istri (off the record) suami selalu dapat bergembira setiap kali memberi, sedangkan isri tidak selamanya dapat bergembira ketika menerima. Mohon maaf jika yang belum berumah tangga tidak ikut tertawa.

Ungkapan yang mengiringi ketiga tradisi di atas adalah “leburan” yang berasal dari kata “lebur” yang memiliki arti “menyatu (menjadi satu)”. Menyatu atau melebur dalam perspektif sufi yang kemudian menjadi tujuan dari semua ibadah, termasuk tujuan dari ibadah puasa, yaitu menyatunya seorang hamba dengan kekasih sejatinya, yaitu Allah SWT. Dalam primbon Jawa diungkapkan dengan istilah manunggaling kawula lan Gusti. Di surga nanti kenikmatan tertinggi adalah melihat Allah SWT tanpa hijab, yang merupakan kebahagiaan yang sempurna. Hal tersebut ditegaskan dalam surah Yunus ayat 26,

26. Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah). Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan (muka mereka berseri-seri dan tidak ada sedikitpun tanda kesusahan). Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.

Tradisi terakhir yang muncul belakangan ini adalah “liburan”. Libur dan cuti bersama di hari Idul fitri senantiasa menjadi tradisi di semua instansi, kecuali sebagian kecil saja, misalnya pom bensin dan jasa transportasi. Kita harus berterima kasih kepada mereka karena kalau mereka libur kita tidak dapat lebar atau tidak dapat mudik. Saat saya mewawancarai sejumlah pengemudi grab car, mereka mengatakan “Saat ini ngegrab di Jakarta, kalau di kampung sepi. Nanti saat lebaran ngegrab di kampung ramai”. Liburan spesial di hari fitri ini memiliki makna yang tidak hanya liburan rutin untuk sekedar refreshing dan bertamasya (rekreasi) semata, namun memiliki makna spiritual-religius yang tinggi, yaitu menjalin komunikasi dan silaturahmi dengan berbagai sanak keluarga, orang tua, kakek-nenek, kerabat, saudara, teman, tetangga, guru-guru, kyai, kolega, mitra, calon mertua, dan sebagainya.

Oh, ya. Saya berpesan kalau akan bersilaturahmi dengan calon mertua, jangan lupa memberi tahu anaknya. Jangan seperti sahabat teman saya. Gara-gara akan bikin kejutan lalu langsung datang padahal anaknya sedang pergi. Tidak enak, kan kalau ditanya, “Anda siapa?

Hadirin yang dirahmati Allah,

Itu tadi adalah tradisi masyarakat ketika merayakan idul fitri. Pertanyaannya sekarang adalah apakah semua kebiasaan merayakan idul fitri yang diuraikan tadi dibolehkan? Apakah kebiasaan menyambut idul fitri yang disebutkan di atas adalah budaya Islam? Melihat cara penyambutan yang berbeda dari berbagai daerah atau negara, dapat dipastikan semua kebiasaan di atas adalah budaya lokal.  Termasuk halal bi halal yang sudah menjadi budaya nasional.

Dalam menentukan tata cara berkehidupan, Islam menggunakan dua pendekatan, yang dalam Matematika setara dengan persamaan dan pertidaksamaan. Pendekatan persamaan adalah untuk melakukan ini caranya begini, seperti 2x+5=7 maka sudah pasti x=1. Contoh tata cara yang menggunakan pendekatan ini adalah shalat, yang Islam sudah memberitahukan caranya, yaitu diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Pendekatan pertidaksamaan adalah untuk melakukan ini caranya jangan begini, jangan begini, seperti pada program linier. Contoh tata cara yang menggunakan pendekatan pertidaksamaan adalah berpakaian. Islam tidak menentukan pakaian Islam itu seperti apa, yang penting memenuhi persyaratan antara lain menutup aurat, tidak ketat sehingga terlihat lekuk tubuhnya. Kalau ketat bukan menutup aurat melainkan hanya membungkus aurat.Pada saat ini baju koko dianggap baju muslim padahal baju koko itu seperti baju yang dipakai oleh pendekar kungfu Cina. Namanya juga baju koko, ya Cina, kalau Sunda namanya baju Aa.

Tata cara merayakan idul fitri cenderung menggunakan pendekatan pertidaksamaan, sehingga orang bebas berkreasi selama syarat dan ketentuan berlaku. Oleh sebab itu cara merayakan idul fitri di tiap daerah dapat berbeda-beda. Di samping itu ada tata cara merayakan idul fitri yang menggunakan pendekatan persamaan, yang kalau kita searching di google, akan kita temukan beberapa anjuran atau tata cara sebagai berikut:

1.    Diwajibkan bagi kaum muslim untuk berzakat fitrah. Waktu terbaik adalah setelah matahari terbenam di hari terakhir ramadan sampai sebelum salat Idul fitri. Namun boleh juga dilakukan sejak awal ramadan. Di RW saya pengumpulan zakat dimulai malam selikur.

2.    Memperbanyak takbir. Beberapa ketentuan dalam bertakbir:

·         Waktu mulai bertakbir adalah sejak terbenam matahari di akhir ramadan sampai selesai khutbah idul fitri.

  • Disunahkan mengeraskan takbir bagi laki-laki dan dipelankan bagi perempuan, dan disunahkan bertakbir di perjalanan ketika menuju salat Id.

·         Kalimat-kalimat takbir

Ini juga yang teriwayatkan dari Sayidina Umar dan Sayidina Ali Radhiallahuanhuma.

3.    Disunahkan mandi sebelum berangkat shalat Id

4.    Memakai pakaian terbaik, dan untuk laki-laki boleh memakai minyak wangi, sedangkan untuk perempuan tidak dianjurkan.

5.    Menyantap makanan sebelum berangkat shalat Id. Disunahkan makan kurma dalam jumlah ganjil minimal 3 butir sebelum keluar menuju shalat Id.

6.    Pergi menuju lapangan tempat pelaksanaan shalat Id. Lebih utama melaksanakan shalat Id di tanah lapang dari pada di masjid, karena Rasulullah tidak pernah melaksanakan shalat Id di dalam masjid kecuali saat hujan. Namun dibolehkan untuk melakukannya di masjid bila tidak ditemukan tanah lapang.

7.    Bagi kaum wanita, dianjurkan untuk keluar menuju tempat shalat Id tanpa tabarruj (menampakkan kecantikan) dan tanpa mengenakan wewangian.

8.    Dianjurkan juga bagi anak-anak untuk ikut keluar menuju tempat shalat Id.

9.    Melaksanakan shalat Id.

10. Mendengarkan khutbah.

11. Mengambil jalan lain antara berangkat dan pulang (jika ada). Di antara hikmahnya adalah untuk menampakkan syiar Islam di hari raya. Jadi saat pulang kampung nanti, silakan berangkat shalat Id dari rumah orang tua, pulangnya ke rumah mertua. Itu juga kalau istrinya sekampung.

12. Dianjurkan berjalan kaki sampai ke tempat shalat dan tidak memakai kendaraan kecuali jika ada hajat.

13. Tidak disunahkan shalat sunah apa pun sebelum dan sesudah shalat Id, kecuali apabila shalat Id dilaksanakan di masjid, maka disunahkan shalat tahiyyatul masjid apabila shalat Id belum dimulai.

14. Bagi yang tertinggal shalat Id bersama jamaah, maka hendaknya dia mengqada (mengganti)-nya, dengan tata cara yang sama sebanyak dua rakaat.

15. Bersenang-senang dan bergembira dengan mengadakan pesta atau permainan yang halal/mubah di hari raya dan diizinkan bagi anak kecil perempuan yang belum baligh untuk menyanyi dengan menggunakan alat musik rebana.

16. Menjauhkan diri dari bermain petasan atau kembang api atau hal sia-sia yang lainnya.

17. Menghindari ikhtilat (bercampur baur) atau berjabat tangan antara pria dengan wanita yang bukan mahram. Karena hal tersebut termasuk hal yang diharamkan secara syari berdasarkan sabdanya:

"Andaikata kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya."

(HR. Ar-Ruyany dalam Musnadnya no. 1282, Ath-Thabrany 20/no. 486-487 dan Al-Baihaqy dalam Syuabul Iman no. 4544 dan dishahihkan oleh syeikh Al-Albany dalam Ash-Shahihah no. 226).

Ini perlu digarisbawahi, kalau menyentuh saja haram apalagi yang lebih dari itu. Oleh sebab itu kalau saya ditakdirkan mendapat jodoh lagi, pacarannya setelah akad nikah.

Hadirin yang dirahmati Allah.

Itu tadi adab merayakan idul fitri yang secara umum kita ketahui. Dengan demikian kebiasaan yang bertentangan dengan adab silakan dihentikan, sedangkan yang tidak bertentangan dengan adab silakan dilanjutkan mana kala suka dan mana kala mampu. Saya sendiri akan menyambut idul fitri dengan tidak mudik karena sudah mudik sebelum puasa. Saya akan dimudiki anak. Anak saya tidak mudik ke Ngawi karena baru saja menerima anak ketiga (cucu ketiga saya lahir). Alhamdulillah. Pada kesempatan ini saya ucapkan selamat idul fitri 1 Syawal 1444 H, taqabalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin. Semoga ibadah puasa kita diterima Allah SWT dan kita berhasil menjadi orang yang bertakwa sebagaimana yang menjadi tujuan dari menjalankan ibadah puasa.

Demikian tausiah singkat ini, terima kasih atas perhatiannya, mohon maaf bila ada kesalahan.

Wassalaamualaikum wr.wb.