Adab-Adab Merayakan Idul Fitri
Oleh: Dr. Ir. Setyono, M.Si (Dosen Fakultas Pertanian Universitas Djuanda)
Assalaamualaikum
wr. wb.
Alhamdulillah, puji
syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah memberi nikmat kepada
kita sekalian, sehingga dapat menunaikan shalat dhuhur berjamaah. Shalawat dan
salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW,
beserta keluarganya, sahabatnya, pengikutnya, khususnya kita sekalian,
pendengar setia kuliah bakda dhuhur.
Hadirin yang
dimuliakan Allah.
Saya mendapat giliran mengisi kulbakdhu
edisi khusus ramadan dengan tema adab merayakan idul fitri. Idul fitri terjadi
pada hari pertama di bulan Syawal. Dalam beberapa ceramah kita sering mendengar
bahwa idul fitri adalah hari kembalinya kita pada kesucian, tentu dengan catatan
bahwa syarat dan ketentuan berlaku. Dalam bahasa kita idul fitri juga disebut
lebaran. Lebaran berarti sudah atau berakhir, yaitu berakhirnya puasa ramadan.
Oleh sebab itu tidak ada idul fitri kalau tidak puasa, karena akhir puasa hanya
ada ketika ada puasa. Jadi adab merayakan idul fitri yang paling utama adalah
puasa di bulan Ramadan dan mengisi Ramadan dengan amalan-amalan yang banyak, yang
paling utama adalah membaca Al Quran, sebagaimana disampaikan H. Inayatullah
saat majelis dhuha tanggal 30 Maret 2023.
Tradisi beribadah di bulan Ramadan yang
ada di Jawa antara lain: tadarus (biasanya setelah shalat tarawih), menyediakan
makanan bagi yang tadarus (puluran),
membagi makanan kepada kerabat dan tetangga (ater-ater) yang sekarang berubah menjadi membagi bingkisan lebaran (sembako),
itikaf, dan membayar zakat fitrah di akhir Ramadan.
Prof. Dr. Supan Kusumamiharja (alm),
dosen PAI pertama di UNIDA, dalam suatu tausiah mengatakan hendaknya ketika
bangun sahur di saat istri menyiapkan makan sahur, suaminya membaca Al Quran. Saat
mendengar tausiah itu, bagi saya baru masuk sebagai pengetahuan saja. Setelah
dua tahun menyambut Ramadan tanpa keberadaan istri, saya baru sadari bahwa di
bulan Ramadan istri itu sering bangun, tidurnya tidak nyenyak khawatir
terlewat. Indikatornya adalah saat ini meskipun alarm saya pasang 03:30,
biasanya 02:30 saya bangun memanasi nasi, lalu melanjutkan tidur sampai alarm
bunyi. Mungkin seperti itu yang dilakukan istri selama 32 tahun. Oleh sebab itu
saya berpesan kepada jamaah “Sayangilah
istri Anda selagi Anda masih dapat menyayangi istri”.
Saat
cucurak tanggal 22 Maret 2023 (sehari sebelum puasa) dengan tim kajian di Kemeneg
Kominfo, ada beberapa orang karyawan yang sedang berdiskusi mengenai puasa.
Saya sempatkan nimbrung lalu bertanya kepada mereka, “Apa tanda-tanda orang yang berhasil dalam puasa”. Mereka menjawab,
“Orang yang dapat mengisi bulan puasa
dengan amalan-amalan yang baik dan banyak”. Saya kemudian berkata, “Kalau saat bulan puasa rajin beribadah,
tetapi setelah lebaran kembali seperti semula berarti puasanya belum berhasil.
Puasa yang berhasil itu seperti tiket bis malam, saat lebaran naik, setelah
lebaran turun tetapi tidak ke nilai semula. Contoh tiket Rosalia Indah kelas
Super Top ke Ngawi tahun lalu Rp
330.000, saat lebaran naik menjadi Rp
650.000, setelah lebaran menjadi Rp 380.000. Naik Rp 50.000 dari harga semula.
Saat puasa rajin beribadah itu ibarat tiket bis kena tuslag. Setelah puasa
memang tidak serajin saat puasa, tetapi lebih rajin dibandingkan sebelum puasa,
itu setara dengan tiket bis pasca lebaran.. Seperti itulah orang yang berhasil
dalam puasa”.
Tradisi
yang juga umum di bulan Ramadan adalah buka puasa bersama. Suatu saat H. Iqbal,
ketua DKM Masjid Kaab bin Juhair, di kampung tempat saya tinggal, mengatakan, “Selama bulan puasa jamaah shalat maghrib
turun drastis, padahal biasanya shalat lima waktu yang paling banyak jamaahnya
adalah maghrib. Apa perlu dipancing dengan buka puasa bersama, ya? Oleh sebab
itu mulai besok kita siapkan makanan dan minuman gratis untuk berbuka di masjid”.
Saya mengatakan, “Bagi yang berkeluarga,
buka puasa paling nikmat adalah di rumah. Kalaupun sekali-sekali buka puasa
bersama di kantor atau di komunitasnya, itu hanya sekedar mengikuti acara
formal. Yang suka buka puasa bersama
ketimbang buka puasa di rumah hanya yang masih bujangan. Mahasiswa lebih suka
buka puasa bersama ketimbang buka puasa di kosannya. Kalau berbuka puasa di
kosan sendirian, kalau buka puasa bersama ada teman, ada keluarga maya, dan
mungkin gratis.”
Hadirin
yang dirahmati Allah.
Lebar dapat juga berarti dengan lapang
dada memaafkan. Oleh sebab itu banyak orang di Indonesia yang merayakan idul fitri
dengan maaf memaafkan atau dikenal dengan halal bi halal. Ungkapan ini mengandung arti bahwa setiap umat Islam setelah
melakukan ibadah puasa selama bulan Ramadan, diharapkan memiliki hati yang
lebar, lapang, bebas dari segala dosa, karena juga memberikan kelebaran
(membuka) hati untuk memaafkan orang lain, sehingga kembali menjadi fitri
(suci) sebagaimana pada kondisi awal manusia dilahirkan (fitrah). Ini mirip
menyervis sepeda motor di bengkel resmi (misal nyervis beat di AHASS), yang
berupaya mengembalikan sepeda motor ke kondisi 100%. Ungkapan ini sesuai dengan
hadits Nabi Muhammad SAW: “Barang siapa
yang berpuasa pada bulan Ramadan dengan dilandasi iman dan penuh pengharapan
kepada Allah, maka segala dosa-dosanya akan diampuni oleh-Nya”.
Tradisi
yang mengiringi lebaran adalah “laburan”, berasal dari kata “labur” yang
memiliki makna mengecat. Ada kebiasaan bahwa sebelum idul fitri orang yang
sudah berumah tangga mengecat rumahnya, menata ulang posisi kursi, lemari,
tempat tidur, dan lain-lainnya, sehingga saat lebaran terlihat tampil baru. Ketika
istri saya masih hidup biasanya dia sudah membuat jadwal kerja selama libur
lebaran, misalnya mencuci gorden, mengecat kusen yang pudar, atau membersihkan pavling
blok. Bagi yang masih ngekos, kalaulah tidak melabur rumah, paling tidak ya
melabur hati. Selama bulan ramadan hati dilatih dan didandani agar indah dan
menawan sehingga dalam tata pergaulan dengan sesama, tidak ada lagi celah
kebencian dan prasangka buruk. Melabur software inilah yang dominan saya
lakukan dalam dua lebaran terakhir, karena yang menjadwal melabur hardware
sudah dipanggil Allah. Al Faatihah.
Tradisi
selanjutnya adalah luberan, yang berasal dari kata “luber”, dapat diartikan
sebagai tindakan yang loman, dermawan, suka berbagi, berempati, dan bersimpati
pada orang lain yang membutuhkan pertolongan. Sikap luber dengan berzakat
fitrah sebelum idul fitri menjadi kewajiban bagi setiap muslim. Selanjutnya
disambung dengan zakat maal sesuai kadar dan waktu pelaksanaannya. Wujud
keluberan hendaknya dapat diterjemahkan dalam solidaritas sosial yang lebih
nyata, karena sesungguhnya kegembiraan
itu tidak hanya terjadi pada saat menerima melainkan juga dapat terjadi pada saat
memberi. Bahkan dalam hubungan suami istri (off the record) suami selalu
dapat bergembira setiap kali memberi, sedangkan isri tidak selamanya dapat
bergembira ketika menerima. Mohon maaf jika yang belum berumah tangga tidak
ikut tertawa.
Ungkapan
yang mengiringi ketiga tradisi di atas adalah “leburan” yang berasal dari kata
“lebur” yang memiliki arti “menyatu (menjadi satu)”. Menyatu atau melebur dalam
perspektif sufi yang kemudian menjadi tujuan dari semua ibadah, termasuk tujuan
dari ibadah puasa, yaitu menyatunya seorang hamba dengan kekasih sejatinya,
yaitu Allah SWT. Dalam primbon Jawa diungkapkan dengan istilah manunggaling kawula lan Gusti. Di surga
nanti kenikmatan tertinggi adalah melihat Allah SWT
tanpa hijab, yang merupakan kebahagiaan yang sempurna. Hal tersebut ditegaskan
dalam surah Yunus ayat 26,
26. Bagi
orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya
(kenikmatan
melihat Allah).
Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan (muka mereka berseri-seri dan tidak ada
sedikitpun tanda kesusahan). Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal
di dalamnya.
Tradisi
terakhir yang muncul belakangan ini adalah “liburan”. Libur dan cuti bersama di
hari Idul fitri senantiasa menjadi tradisi di semua instansi, kecuali sebagian
kecil saja, misalnya pom bensin dan jasa transportasi. Kita harus berterima
kasih kepada mereka karena kalau mereka libur kita tidak dapat lebar atau tidak
dapat mudik. Saat saya mewawancarai sejumlah pengemudi grab car, mereka
mengatakan “Saat ini ngegrab di Jakarta,
kalau di kampung sepi. Nanti saat lebaran ngegrab di kampung ramai”. Liburan
spesial di hari fitri ini memiliki makna yang tidak hanya liburan rutin untuk
sekedar refreshing dan bertamasya (rekreasi) semata, namun memiliki makna
spiritual-religius yang tinggi, yaitu menjalin komunikasi dan silaturahmi dengan
berbagai sanak keluarga, orang tua, kakek-nenek, kerabat, saudara, teman,
tetangga, guru-guru, kyai, kolega, mitra, calon mertua, dan sebagainya.
Oh,
ya. Saya berpesan kalau akan bersilaturahmi dengan calon mertua, jangan lupa
memberi tahu anaknya. Jangan seperti sahabat teman saya. Gara-gara akan bikin
kejutan lalu langsung datang padahal anaknya sedang pergi. Tidak enak, kan
kalau ditanya, “Anda siapa?”
Hadirin yang dirahmati Allah,
Itu
tadi adalah tradisi masyarakat ketika merayakan idul fitri. Pertanyaannya
sekarang adalah apakah semua kebiasaan merayakan idul fitri yang diuraikan tadi
dibolehkan? Apakah kebiasaan menyambut idul fitri yang disebutkan di atas
adalah budaya Islam? Melihat cara penyambutan yang berbeda dari berbagai daerah
atau negara, dapat dipastikan semua kebiasaan di atas adalah budaya lokal. Termasuk halal bi halal yang sudah menjadi
budaya nasional.
Dalam menentukan tata cara berkehidupan,
Islam menggunakan dua pendekatan, yang dalam Matematika setara dengan persamaan
dan pertidaksamaan. Pendekatan persamaan adalah untuk melakukan ini caranya
begini, seperti 2x+5=7 maka sudah pasti x=1. Contoh tata cara yang menggunakan
pendekatan ini adalah shalat, yang Islam sudah memberitahukan caranya, yaitu
diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Pendekatan
pertidaksamaan adalah untuk melakukan ini caranya jangan begini, jangan begini,
seperti pada program linier. Contoh tata cara yang menggunakan pendekatan
pertidaksamaan adalah berpakaian. Islam tidak menentukan pakaian Islam itu
seperti apa, yang penting memenuhi persyaratan antara lain menutup aurat, tidak
ketat sehingga terlihat lekuk tubuhnya. Kalau ketat bukan menutup aurat
melainkan hanya membungkus aurat.Pada saat ini baju koko dianggap baju muslim
padahal baju koko itu seperti baju yang dipakai oleh pendekar kungfu Cina.
Namanya juga baju koko, ya Cina, kalau Sunda namanya baju Aa.
Tata cara merayakan idul fitri cenderung menggunakan pendekatan
pertidaksamaan, sehingga orang bebas berkreasi selama syarat dan ketentuan
berlaku. Oleh sebab itu cara merayakan idul fitri di tiap daerah dapat
berbeda-beda. Di samping itu ada tata cara merayakan idul fitri yang
menggunakan pendekatan persamaan, yang kalau kita searching di google, akan kita temukan beberapa anjuran atau tata
cara sebagai berikut:
1. Diwajibkan bagi kaum muslim untuk
berzakat fitrah. Waktu terbaik adalah setelah matahari terbenam di hari
terakhir ramadan sampai sebelum salat Idul fitri.
Namun boleh juga dilakukan sejak awal ramadan. Di RW saya pengumpulan zakat
dimulai malam selikur.
2.
Memperbanyak
takbir. Beberapa ketentuan dalam bertakbir:
·
Waktu mulai bertakbir adalah sejak terbenam matahari
di akhir ramadan sampai selesai khutbah idul fitri.
- Disunahkan mengeraskan takbir bagi laki-laki dan dipelankan bagi perempuan,
dan disunahkan bertakbir di perjalanan ketika menuju salat Id.
·
Kalimat-kalimat takbir
Ini juga yang teriwayatkan dari
Sayidina Umar dan Sayidina Ali Radhiallahuanhuma.
3. Disunahkan mandi sebelum berangkat
shalat Id
4. Memakai pakaian terbaik, dan untuk
laki-laki boleh memakai minyak wangi, sedangkan untuk perempuan tidak
dianjurkan.
5. Menyantap makanan sebelum berangkat
shalat Id. Disunahkan makan kurma dalam jumlah ganjil minimal 3 butir sebelum
keluar menuju shalat Id.
6. Pergi menuju lapangan tempat pelaksanaan
shalat Id. Lebih utama melaksanakan shalat Id di tanah lapang dari pada di
masjid, karena Rasulullah tidak pernah melaksanakan shalat Id di dalam masjid
kecuali saat hujan. Namun dibolehkan untuk melakukannya di masjid bila tidak
ditemukan tanah lapang.
7. Bagi kaum wanita, dianjurkan untuk
keluar menuju tempat shalat Id tanpa tabarruj (menampakkan kecantikan) dan
tanpa mengenakan wewangian.
8. Dianjurkan juga bagi anak-anak untuk
ikut keluar menuju tempat shalat Id.
9. Melaksanakan shalat
Id.
10. Mendengarkan
khutbah.
11. Mengambil jalan
lain antara berangkat dan pulang (jika ada). Di antara hikmahnya adalah untuk
menampakkan syiar Islam di hari raya. Jadi saat pulang kampung nanti, silakan berangkat
shalat Id dari rumah orang tua, pulangnya ke rumah mertua. Itu juga kalau istrinya sekampung.
12. Dianjurkan berjalan
kaki sampai ke tempat shalat dan tidak memakai kendaraan kecuali jika ada
hajat.
13. Tidak disunahkan
shalat sunah apa pun sebelum dan sesudah shalat Id, kecuali apabila shalat Id
dilaksanakan di masjid, maka disunahkan shalat tahiyyatul masjid apabila shalat
Id belum dimulai.
14. Bagi yang
tertinggal shalat Id bersama jamaah, maka hendaknya dia mengqada
(mengganti)-nya, dengan tata cara yang sama sebanyak dua rakaat.
15. Bersenang-senang
dan bergembira dengan mengadakan pesta atau permainan yang halal/mubah di hari
raya dan diizinkan bagi anak kecil perempuan yang belum baligh untuk menyanyi
dengan menggunakan alat musik rebana.
16. Menjauhkan diri
dari bermain petasan atau kembang api atau hal sia-sia yang lainnya.
17. Menghindari
ikhtilat (bercampur baur) atau berjabat tangan antara pria dengan wanita yang
bukan mahram. Karena hal tersebut termasuk hal yang diharamkan secara syari
berdasarkan sabdanya:
"Andaikata kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya."
(HR. Ar-Ruyany dalam Musnadnya no. 1282, Ath-Thabrany 20/no. 486-487 dan Al-Baihaqy dalam Syuabul Iman no. 4544 dan dishahihkan oleh syeikh Al-Albany dalam Ash-Shahihah no. 226).
Ini perlu digarisbawahi, kalau menyentuh saja haram apalagi yang lebih dari itu. Oleh sebab itu kalau saya ditakdirkan mendapat jodoh lagi, pacarannya setelah akad nikah.
Hadirin yang dirahmati Allah.
Itu tadi adab merayakan idul fitri yang
secara umum kita ketahui. Dengan demikian kebiasaan yang bertentangan dengan
adab silakan dihentikan, sedangkan yang tidak bertentangan dengan adab silakan
dilanjutkan mana kala suka dan mana kala mampu. Saya sendiri akan menyambut
idul fitri dengan tidak mudik karena sudah mudik sebelum puasa. Saya akan
dimudiki anak. Anak saya tidak mudik ke Ngawi karena baru saja menerima anak
ketiga (cucu ketiga saya lahir). Alhamdulillah. Pada kesempatan ini saya
ucapkan selamat idul fitri 1 Syawal 1444 H, taqabalallahu minna wa minkum,
mohon maaf lahir dan batin. Semoga ibadah puasa kita diterima Allah SWT dan
kita berhasil menjadi orang yang bertakwa sebagaimana yang menjadi tujuan dari
menjalankan ibadah puasa.
Demikian tausiah singkat ini, terima kasih atas perhatiannya, mohon maaf bila ada
kesalahan.
Wassalaamualaikum wr.wb.
