Majelis Tasbih UNIDA: Politik Islam dan Perdamaian, Pelajaran dari Konflik Timur Tengah
Dosen Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru (FAIPG) Universitas Djuanda (UNIDA), Assoc. Prof. Dr. Radif Khotamir Rusli, M.Ed memaparkan materi bertajuk “Politik Islam dan Perdamaian: Pelajaran dari Konflik Timur Tengah” dalam kegiatan ketauhidan Majelis Tasbih pada Jum’at (17/4/2026). Kegiatan yang rutin diselenggarakan setiap pekan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan wawasan ketauhidan bagi insan UNIDA.
Dalam pemaparannya, Assoc. Prof. Dr. Radif Khotamir Rusli, M.Ed menjelaskan bahwa politik dalam perspektif Islam tidak dapat dilepaskan dari konsep tauhid sebagai fondasi utama. Tauhid, menurutnya, tidak hanya mengatur hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan (hablun min Allah), tetapi juga mengatur hubungan horizontal antarmanusia (hablun min an-nas). Oleh karena itu, politik dalam Islam seharusnya menjadi sarana untuk menegakkan nilai-nilai ilahiah seperti keadilan (al-‘adl), kemaslahatan (al-mashlahah), dan perdamaian (as-silm), bukan sekadar alat perebutan kekuasaan.
Assoc. Prof. Dr. Radif Khotamir Rusli, M.Ed menegaskan bahwa dalam tradisi pemikiran Islam klasik, para filsuf seperti Al-Farabi telah menekankan pentingnya membangun masyarakat ideal (al-madinah al-fadilah) yang berlandaskan kebajikan dan kerja sama, bukan dominasi dan konflik. Namun demikian, dalam praktiknya, sering terjadi distorsi pemahaman ajaran agama yang justru memicu konflik, terutama ketika teks-teks keagamaan ditafsirkan secara parsial tanpa mempertimbangkan konteks historis dan sosial.
Salah satu isu yang disoroti adalah kesalahpahaman terhadap konsep jihad. Assoc. Prof. Dr. Radif Khotamir Rusli, M.Ed menjelaskan bahwa secara etimologis, jihad berarti bersungguh-sungguh dalam berjuang, yang dalam pemikiran Islam terbagi menjadi jihad akbar (melawan hawa nafsu) dan jihad ashghar (perjuangan fisik dalam kondisi tertentu). Ia menekankan bahwa perang dalam Islam bukanlah tujuan, melainkan opsi terakhir ketika upaya damai tidak lagi memungkinkan dan umat berada dalam kondisi tertindas. Oleh karena itu, menjadikan jihad sebagai legitimasi kekerasan merupakan bentuk penyimpangan dari ajaran Islam yang sebenarnya.
“Dalam Islam, upaya mendamaikan perselisihan justru memiliki nilai yang sangat tinggi. Bahkan dalam hadis disebutkan bahwa mendamaikan konflik merupakan sedekah terbaik,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Assoc. Prof. Dr. Radif Khotamir Rusli, M.Ed mengulas konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah sebagai contoh nyata kompleksitas persoalan yang tidak semata-mata disebabkan oleh faktor teologis. Ia menjelaskan bahwa konflik tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti perebutan sumber daya alam, intervensi kekuatan asing, serta warisan kolonial yang membentuk batas-batas politik yang tidak selalu sejalan dengan realitas sosial masyarakat setempat.
Menurutnya, narasi sektarian yang mempertentangkan kelompok-kelompok dalam Islam sering kali dipolitisasi untuk kepentingan tertentu, sehingga memperparah konflik dan memicu permusuhan berkepanjangan. Padahal, dalam ajaran Islam ditegaskan bahwa umat Muslim adalah satu kesatuan (ummah) yang harus menjaga persaudaraan (ukhuwah Islamiyyah).
Assoc. Prof. Dr. Radif Khotamir Rusli, M.Ed juga menekankan pentingnya nilai toleransi dan keadilan sebagai fondasi utama dalam membangun perdamaian. Ia mengutip prinsip-prinsip dalam Al-Qur’an yang mendorong umat Islam untuk tetap berlaku adil, bahkan kepada pihak yang berbeda atau berseberangan. Dalam pandangannya, keadilan merupakan prasyarat utama bagi terciptanya perdamaian yang sejati.
Dalam konteks Indonesia, Assoc. Prof. Dr. Radif Khotamir Rusli, M.Ed menilai bahwa bangsa ini memiliki keunggulan dalam mengelola keberagaman melalui nilai-nilai Pancasila dan konstitusi yang menjamin kebebasan beragama. Ia menyebut bahwa Indonesia bukanlah negara agama, tetapi negara yang berketuhanan, yang memberikan ruang bagi setiap warga untuk menjalankan keyakinannya secara damai.
“Indonesia memiliki pengalaman historis dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman. Ini menjadi modal penting untuk menunjukkan bahwa Islam dapat berjalan seiring dengan demokrasi dan nilai-nilai kebangsaan,” jelasnya.
Assoc. Prof. Dr. Radif Khotamir Rusli, M.Ed kemudian menyoroti peran Islam Nusantara sebagai model keberagamaan yang moderat, toleran, dan adaptif terhadap budaya lokal. Pendekatan ini dinilai mampu menjadi alternatif dalam merespons tantangan global, termasuk maraknya ideologi ekstrem yang berpotensi merusak persatuan.
Lebih lanjut dalam pemaparannya, Assoc. Prof. Dr. Radif Khotamir Rusli, M.Ed menegaskan bahwa perdamaian dalam Islam bukan sekadar ketiadaan konflik, tetapi merupakan kondisi aktif yang ditandai dengan terwujudnya keadilan, kesejahteraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Ia mengajak umat Islam untuk menjadikan perdamaian sebagai identitas utama dalam kehidupan, bukan sekadar strategi yang bersifat situasional.
Meneladani Rasulullah SAW, lanjutnya, menjadi kunci dalam mengelola perbedaan dan konflik. Ia mencontohkan Perjanjian Hudaibiyah sebagai bukti bahwa Nabi Muhammad SAW lebih mengedepankan perdamaian, meskipun harus menghadapi konsekuensi yang secara politis tampak merugikan. Namun, keputusan tersebut justru membuka jalan bagi kemenangan yang lebih besar di kemudian hari.
“Perdamaian membutuhkan keberanian untuk menahan ego dan mengedepankan kepentingan yang lebih luas,” ujarnya.
Di akhir pemaparan, Assoc. Prof. Dr. Radif Khotamir Rusli, M.Ed mengajak seluruh peserta untuk menjadikan konflik di Timur Tengah sebagai pelajaran berharga dalam menjaga persatuan dan menghindari perpecahan. Ia menegaskan bahwa konflik tidak akan pernah selesai jika siklus kebencian dan balas dendam terus dipelihara.