[email protected] 0251-8240773
Berita

Puspensif Universitas Djuanda Gelar InkluTalk Seri 1: Guru Adaptif untuk Kelas Inklusif

Pusat Layanan Terpadu Pendidikan Inklusif dan Disabilitas (Puspensif) Universitas Djuanda menyelenggarakan kegiatan InkluTalk Seri 1 bertajuk “Guru Adaptif, Kelas Inklusif” pada Sabtu, 7 Maret 2026. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting ini diikuti oleh guru, dosen, dan mahasiswa yang memiliki perhatian terhadap pengembangan pendidikan inklusif.

Kegiatan InkluTalk diselenggarakan sebagai wadah berbagi pengalaman, diskusi, dan penguatan pemahaman mengenai praktik pendidikan inklusif, khususnya dalam menghadapi tantangan pembelajaran bagi peserta didik dengan kebutuhan yang beragam.

Ketua Puspensif Universitas Djuanda, Hanrezi D Hasnin, M.Si. menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk memperluas ruang dialog antara praktisi pendidikan dan akademisi dalam mengembangkan praktik pendidikan inklusif yang lebih adaptif.

“InkluTalk kami rancang sebagai ruang berbagi pengalaman dan pengetahuan antara guru, dosen, dan pemerhati pendidikan inklusif. Melalui forum ini, kami berharap muncul berbagai perspektif dan praktik baik yang dapat memperkuat kapasitas pendidik dalam mengelola kelas yang beragam,” ujarnya.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki kompetensi di bidang pendidikan inklusif, yaitu Prof. Dr. Rasmitadila, Umi Rasyida Syafa, Dr. Wiworo Retnadi Rias Hayu, M.Pd, serta Hanrezi D. Hasnin, M.Si. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor, sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan praktik pendidikan inklusif di lingkungan pendidikan.

Dalam sesi pemaparan materi, narasumber membahas berbagai topik penting terkait implementasi pendidikan inklusif. Salah satu fokus diskusi adalah strategi guru dalam mempersiapkan diri untuk mengajar di kelas inklusif di tingkat sekolah dasar, termasuk bagaimana guru dapat mengembangkan pendekatan pembelajaran yang adaptif dan responsif terhadap kebutuhan siswa yang beragam.

Selain itu, kegiatan ini juga mengangkat praktik baik dalam pengelolaan mahasiswa slow learner di perguruan tinggi, yang menunjukkan bahwa pendidikan inklusif tidak hanya menjadi perhatian pada jenjang pendidikan dasar, tetapi juga perlu diperkuat hingga pendidikan tinggi.

Suasana diskusi berlangsung interaktif. Para guru yang menjadi peserta kegiatan aktif menyampaikan berbagai pengalaman, kendala, serta tantangan yang mereka hadapi dalam mengelola kelas inklusif di sekolah masing-masing. Berbagai permasalahan tersebut kemudian menjadi bahan diskusi bersama untuk mencari solusi dan strategi yang lebih efektif dalam mendukung pembelajaran yang inklusif.

Prof. Rasmitadila selaku Wakil Rektor 3 Universitas Djuanda dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan kegiatan ini.

“Kegiatan seperti InkluTalk sangat penting untuk memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan praktisi pendidikan di lapangan. Diskusi-diskusi semacam ini tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga mendorong lahirnya inovasi dan praktik pendidikan yang lebih inklusif,” ungkapnya.

Melalui kegiatan InkluTalk Seri 1, Puspensif Universitas Djuanda berharap dapat terus menghadirkan ruang dialog dan kolaborasi antara praktisi pendidikan, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya dalam upaya memperkuat implementasi pendidikan inklusif di Indonesia. Kegiatan ini juga direncanakan akan berlanjut dalam seri-seri diskusi berikutnya dengan topik yang beragam terkait pendidikan inklusif. (RY)