[email protected] 0251-8240773
Berita

HIMATEPA FIPHAL UNIDA Gelar FGD, Soroti Tantangan Implementasi Program Makan Bergizi Gratis

Himpunan Mahasiswa Teknologi Pangan (HIMATEPA) Universitas Djuanda (UNIDA) melalui Sektor Kajian Strategi dan Aksi menyelenggarakan Forum Group Discussion (FGD) bertajuk “Discuss, Decide, and Act: Belajar dan Berkembang Bersama untuk Berpikir Kritis serta Bergerak Strategis” pada Sabtu (29/11/2025) di Villa Silma, Cisarua, Kabupaten Bogor. Kegiatan ini dihadiri oleh anggota Himpunan Mahasiswa Teknologi Industri Pertanian (HIMATIP), anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Anggota Dewan Pengawas Mahasiswa (DPM) Fakultas Ilmu Pangan Halal.

Kegiatan ini mengangkat isu hangat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini menjadi perhatian publik. FGD dikemas dalam bentuk debat antara tim pro dan kontra dengan sasaran utama mahasiswa FIPHAL UNIDA, guna melatih kemampuan berpikir kritis serta memperluas sudut pandang mahasiswa terhadap kebijakan pangan nasional.

Ketua Pelaksana kegiatan, Rima Yanti, mengatakan bahwa FGD ini menjadi ruang diskusi bagi mahasiswa untuk berpikir kritis dalam menganalisis persoalan pangan secara komprehensif.

“Program Makan Bergizi Gratis dipilih karena menjadi topik yang banyak dibicarakan, terutama terkait aspek gizi, keamanan pangan, dan akses penerima. Melalui debat ini, mahasiswa diharapkan mampu melihat MBG dari berbagai sudut pandang, baik manfaat maupun tantangan implementasinya,” ujar Rima.

Ia menambahkan, kegiatan ini tidak hanya melatih kemampuan berargumentasi, tetapi juga membantu mahasiswa memahami kompleksitas kebijakan publik yang berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat.

“Mahasiswa perlu dibekali kemampuan berpikir kritis agar mampu berkontribusi dalam memberikan solusi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi pangan,” tambahnya.

Dalam debat tersebut, pihak pro menekankan bahwa MBG memiliki potensi besar dalam menurunkan angka stunting, meningkatkan status gizi anak, serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui penyerapan produk dan tenaga kerja setempat. Sementara itu, pihak kontra menyoroti berbagai persoalan implementasi, seperti kasus keracunan makanan, kurangnya transparansi anggaran, ketimpangan distribusi, serta dampaknya terhadap UMKM lokal seperti kantin sekolah.

Hasil diskusi kemudian mengerucut pada forum konsolidasi peserta yang menyepakati perlunya penghentian sementara Program MBG untuk dilakukan kajian ulang secara menyeluruh. Kesimpulan tersebut menekankan pentingnya pemenuhan aspek keamanan pangan, transparansi anggaran, dan sistem distribusi yang adil sebelum program kembali dijalankan.

Salah satu peserta FGD mengaku kegiatan ini memberikan pengalaman baru yang berharga.

“Kami belajar menyampaikan pendapat secara terarah serta bertanggung jawab. Kami juga jadi sadar pentingnya menggunakan data yang valid karena kualitas argumen sangat ditentukan oleh kekuatan sumbernya,” ungkap salah satu peserta.

Ia berharap kegiatan serupa dapat kembali diselenggarakan dengan durasi yang lebih panjang.

“Waktunya terasa kurang karena diskusinya sudah sangat menarik. Semoga ke depan FGD seperti ini bisa digelar lagi agar pembahasan isu pangan bisa lebih mendalam,” katanya.

Melalui kegiatan ini, HIMATEPA berharap dapat meningkatkan kepedulian mahasiswa terhadap persoalan pangan di Indonesia, sekaligus mengembangkan keterampilan berpikir kritis, komunikasi, dan kerja sama. FGD ini juga diharapkan menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk terus tumbuh dan berkontribusi dalam menjawab tantangan pangan nasional.