[email protected] 0251-8240773
Informasi

Husnuzhon dan Psychological Well-Being

Oleh: Resti Yektyastuti, M.Pd (Dosen Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru)

 

Disampaikan pada kajian tauhid Muslimah

Jumat, 6 Januari 2023

 

Dewasa ini kita sering melihat fenomena generasi Z (gen Z) menyebutkan istilah insecure, overthinking, mental health secara langsung maupun melalui tulisan di media sosial. Gen Z yang tumbuh dewasa di tengah era serba cepat dengan perkembangan teknologi yang pesat dan dalam bayang-bayang ekonomi, ketidakamanan, persaingan, dan tuntutan pekerjaan membuat insecurity dan overthinking seolah menjadi sahabat dekat mereka.

Laporan Asosiasi Psikologis Amerika (APA) pada 2020 menyebutkan bahwa sembilan dari 10 dewasa muda gen Z mengatakan mereka telah mengalami setidaknya satu gejala fisik atau emosional karena stres. Gejala insecurity dan overthinking ini tentu memiliki kaitan yang erat dengan kesejahteraan psikologis (psychological well-being).

 

Dalam Islam, nabi kita Muhammad SAW telah memberikan tuntunan sejak 14 abad yang lalu untuk menangani permasalahan kesejahteraan psikologis. Salah satunya adalah melalui pengelolaan kondisi psikologis dengan positif thinking atau berprasangka baik, yang juga kerap kita sebut dengan husnuzhon. Islam mengajarkan 2 jenis husnuzhon, yaitu husnuzhon billah dan husnuzhon bil muminiin.

 

1.      Husnuzhon billah (berbaik sangka kepada Allah)

Berhusnuzhon kepada Allah SWT dapat ditunjukkan dengan meyakini Allah SWT sebagai Pencipta dan Pemelihara, yang memiliki seluruh keagungan dan tidak terdapat satupun kekurangan. Segala ketetapan Allah SWT adalah yang terbaik. Sebagai muslim hendaknya wajib membangun keyakinan bahwa Allah akan mengampuni hambanya yang bertaubat, mengabulkan doa bagi hambanya yang memohon, dan memberikan rezeki bagi yang meminta kecukupan. Dalam hadits Riwayat Bukhori nomor 6856 disebutkan:

 

Allah Taala berfirman: Wahai hamba-Ku, Aku sesuai persangkaanmu kepada-Ku, dan Aku bersamamu jika engkau ingat kepada-Ku.


Husnuzhon kepada Allah membuat diri kita senantiasa berada dalam kondisi yang baik di setiap kondisi takdir yang dihadapi. Dengan berbaik sangka, hati kita selalu bisa menerima apa yang terjadi serta menggali sisi baiknya. Dengan demikian maka hati menjadi tenteram dan jauh dari kegelisahan dan kesejahteraaan psikologis pun akan meningkat.

 

2.      Husnuzhon bil mu’miniin (berbaik sangka kepada sesama orang iman)

Bersikap husnuzhon kepada sesama orang iman akan membuat seseorang mendapatkan banyak hal tentang kebaikan dari orang lain, antara lain, penghargaan. Husnuzhon merupakan bagian dari wujud pemberian kehormatan/penghargaan kepada orang iman. Allah SWT berfirman pada surah ke 17, Al-Isra ayat 7:

 

Artinya“Jika kamu berbuat kebaikan, berarti kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri.” (QS. Al-Israa’ [17]:7)

 

Setiap apa yang terjadi akan diterima secara baik oleh seseorang apabila seseorang tersebut mempunyai sikap husnuzhon dan setiap apa yang terjadi akan menjadi jelek dipandangannya apabila seseorang mempunyai sikap su’udzan (berburuk sangka).

Bersangka baik kepada sesama orang iman tercermin dalam sikap sehari- hari seperti tidak mudah menerima suatu berita yang tidak jelas sumber kebenarannya. Bila mendengar berita buruk dari saudara seiman yang belum jelas kebenarannya, ia akan terlebih dahulu melakukan konfirmasi (tabayyun) sebelum mempercayai atau bahkan menyebarkannya.

 

Kedua jenis husnuzhon ini apabila dibiasakan dalam diri seorang muslim ternyata memberikan dampak yang sangat baik kepada kesejahteraan psikologisnya. Dalam hasil penelitian yang dilaporakan Irman Nuryadin dkk melalui Jurnal Psikologi Islam (Vol 3 No 2 Tahun 2017) disebutkan bahwa terdapat hubungan positif antara husnuzhon dengan kesejahteraan psikologis pada penderita HIV/AIDS. Semakin tinggi husnuzhon maka semakin tinggi kesejahteraan psikologisnya yang kemudian mempengaruhi peningkatan harapan hidupnya. Pada kesempatan lain, Nur Baity Ulya pada International Summit on Science Technology and Humanity (2019) melaporkan hasil penelitian tentang sikap husnuzhon pada siswa SMA yang akan menghadapi ujian akhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa husnuzhon membantu siswa mencapai pemikiran yang lebih positif dan percaya diri untuk mencapai prestasi akademik yang lebih baik. Dalam laporan Rika Sylvia dkk pada jurnal Psikologi Terapan dan Pendidikan  (Vol 4 No 1 Tahun 2022) juga disebutkan bahwa sikap husnuzhon dapat menjadi cara atau upaya dalam menjaga kesehatan mental individu di masa pandemi Covid-19.

 

Bersikap husnuzhon menimbulkan perilaku optimis akan memunculkan semangat bekerja keras, memiliki kepercayaan diri dan pantang menyerah dalam menghadapi permasalahan di kehidupan. Selain itu, seorang muslim yang memiliki prasangka baik terhadap Allah SWT maupun sesama muslim lain cenderung merasa dirinya tidak memiliki tekanan sehingga dalam menjalani kegiatan dalam kehidupan sehari-harinya akan merasa rileks dan dapat menyelesaikan masalahnya dengan baik. Berprasangka baik terhadap orang lain juga dapat membuat individu merasa dirinya mencapai kepuasan hidup karena dirinya merasa berguna bagi orang lain dan dicintai oleh banyak orang di sekitarnya. Husnuzhon adalah jalan yang baik menuju tercapainya kesejahteraan psikologis pada diri seorang muslim.