Husnuzhon dan Psychological Well-Being
Oleh: Resti Yektyastuti, M.Pd (Dosen Fakultas
Agama Islam dan Pendidikan Guru)
Disampaikan pada kajian tauhid Muslimah
Jumat, 6 Januari 2023
Dewasa ini kita sering melihat fenomena generasi Z (gen
Z) menyebutkan istilah insecure, overthinking, mental health secara langsung
maupun melalui tulisan di media sosial. Gen Z
yang tumbuh dewasa di tengah era serba cepat dengan perkembangan teknologi yang
pesat dan dalam bayang-bayang ekonomi, ketidakamanan, persaingan, dan tuntutan
pekerjaan membuat insecurity dan overthinking seolah
menjadi sahabat dekat mereka.
Laporan Asosiasi Psikologis Amerika (APA) pada 2020 menyebutkan
bahwa sembilan dari 10 dewasa muda gen Z mengatakan mereka telah mengalami
setidaknya satu gejala fisik atau emosional karena stres. Gejala insecurity dan
overthinking ini tentu memiliki kaitan yang erat dengan kesejahteraan
psikologis (psychological well-being).
Dalam Islam, nabi kita Muhammad SAW telah memberikan
tuntunan sejak 14 abad yang lalu untuk menangani permasalahan kesejahteraan
psikologis. Salah satunya adalah melalui pengelolaan kondisi psikologis dengan positif
thinking atau berprasangka baik, yang juga kerap kita sebut dengan husnuzhon.
Islam mengajarkan 2 jenis husnuzhon, yaitu husnuzhon billah dan husnuzhon bil muminiin.
1.
Husnuzhon billah (berbaik sangka kepada Allah)
Berhusnuzhon kepada Allah SWT dapat ditunjukkan dengan meyakini Allah
SWT sebagai Pencipta dan Pemelihara, yang memiliki seluruh keagungan dan tidak
terdapat satupun kekurangan. Segala ketetapan Allah SWT adalah yang terbaik.
Sebagai muslim hendaknya wajib membangun keyakinan bahwa Allah akan mengampuni
hambanya yang bertaubat, mengabulkan doa bagi hambanya yang memohon, dan
memberikan rezeki bagi yang meminta kecukupan. Dalam hadits Riwayat Bukhori
nomor 6856 disebutkan:
Allah Taala berfirman: Wahai hamba-Ku, Aku sesuai persangkaanmu
kepada-Ku, dan Aku bersamamu jika engkau ingat kepada-Ku.
Husnuzhon kepada Allah membuat diri kita senantiasa berada dalam kondisi yang
baik di setiap kondisi takdir yang dihadapi. Dengan berbaik sangka, hati kita
selalu bisa menerima apa yang terjadi serta menggali sisi baiknya. Dengan
demikian maka hati menjadi tenteram dan jauh dari kegelisahan dan
kesejahteraaan psikologis pun akan meningkat.
2.
Husnuzhon bil mu’miniin (berbaik sangka kepada sesama
orang iman)
Bersikap husnuzhon kepada sesama orang iman akan
membuat seseorang mendapatkan banyak hal tentang kebaikan dari orang lain,
antara lain, penghargaan. Husnuzhon merupakan bagian dari wujud
pemberian kehormatan/penghargaan kepada orang iman. Allah SWT berfirman pada
surah ke 17, Al-Isra ayat 7:
Artinya: “Jika kamu berbuat kebaikan, berarti kamu telah berbuat baik untuk
dirimu sendiri.” (QS. Al-Israa’ [17]:7)
Setiap apa yang
terjadi akan diterima secara baik oleh seseorang apabila seseorang tersebut
mempunyai sikap husnuzhon dan setiap apa yang terjadi akan
menjadi jelek dipandangannya apabila seseorang mempunyai sikap su’udzan (berburuk sangka).
Bersangka
baik kepada sesama orang iman tercermin dalam sikap sehari- hari seperti tidak
mudah menerima suatu berita yang tidak jelas sumber kebenarannya. Bila
mendengar berita buruk dari saudara seiman yang belum jelas kebenarannya, ia
akan terlebih dahulu melakukan konfirmasi (tabayyun) sebelum mempercayai
atau bahkan menyebarkannya.
Kedua jenis
husnuzhon ini apabila dibiasakan dalam diri seorang muslim ternyata memberikan
dampak yang sangat baik kepada kesejahteraan psikologisnya. Dalam hasil
penelitian yang dilaporakan Irman Nuryadin dkk melalui Jurnal Psikologi Islam
(Vol 3 No 2 Tahun 2017) disebutkan bahwa terdapat hubungan positif antara
husnuzhon dengan kesejahteraan psikologis pada penderita HIV/AIDS. Semakin
tinggi husnuzhon maka semakin tinggi kesejahteraan psikologisnya yang kemudian
mempengaruhi peningkatan harapan hidupnya. Pada kesempatan lain, Nur Baity Ulya
pada International Summit on Science Technology and Humanity (2019) melaporkan
hasil penelitian tentang sikap husnuzhon pada siswa SMA yang akan menghadapi
ujian akhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa husnuzhon membantu siswa mencapai
pemikiran yang lebih positif dan percaya diri untuk mencapai prestasi akademik
yang lebih baik. Dalam laporan Rika Sylvia dkk pada jurnal Psikologi Terapan
dan Pendidikan (Vol 4 No 1 Tahun 2022)
juga disebutkan bahwa sikap husnuzhon
dapat menjadi cara atau upaya dalam menjaga kesehatan mental individu di masa
pandemi Covid-19.
Bersikap husnuzhon
menimbulkan perilaku optimis akan memunculkan semangat bekerja keras, memiliki
kepercayaan diri dan pantang menyerah dalam menghadapi permasalahan di
kehidupan. Selain itu, seorang muslim yang memiliki prasangka baik terhadap
Allah SWT maupun sesama muslim lain cenderung merasa dirinya tidak memiliki
tekanan sehingga dalam menjalani kegiatan dalam kehidupan sehari-harinya akan
merasa rileks dan dapat menyelesaikan masalahnya dengan baik. Berprasangka baik
terhadap orang lain juga dapat membuat individu merasa dirinya mencapai
kepuasan hidup karena dirinya merasa berguna bagi orang lain dan dicintai oleh
banyak orang di sekitarnya. Husnuzhon adalah jalan yang baik menuju tercapainya
kesejahteraan psikologis pada diri seorang muslim.