[email protected] 0251-8240773
Informasi

Manusia Dalam Kerugian (Renungan Q.S. Al-Ashr)

Demi masa sesungguhnya manusia kerugian - Melainkan yang beriman dan beramal sholeh - Gunakan kesempatan yang masih diberi moga kita takkan menyesal - Masa usia kita jangan disiakan kerna ia takkan kembali.

 

Ingat lima perkara sebelum lima perkara. Sihat sebelum sakit, Muda sebelum tua, Kaya sebelum miskin, Lapang sebelum sempit, Hidup sebelum mati (Lagu Raihan).


Lirik lagu yang dinyanyikan grup musik RAIHAN ini sejatinya adalah menukil ayat Al-Quran Surat al ‘Ashr (1-3):


“1. Demi masa. 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. 3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati dalam supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.”

 

Sungguh Allah SWT tidak akan bersumpah kecuali dengan sesuatu yang hebat. Salah satunya adalah tentang waktu, sebagaimana yang Allah firmankan dalam Al-Qur’an surat al-Ashr di atas.

 

Bahwa sesungguhnya manusia berada dalam kerugian disebabkan oleh kelalaian mereka mempergunakan waktunya, terlena dalam kesiasiaan. Waktu yang ada tidak dipergunakan untuk belajar, menuntut ilmu, beribadah dan melakukan amal-amal sholeh lainnya, hanya bersenda gurau dan berhura-hura serta bermaksiat, sehingga hasil yang didapat atau ditemui hanyalah kesiasiaan.  Bayangkan jika waktu yang Allah berikan itu tak pernah dipakai beribadah, maka kesengsaraanlah yang akan dijumpai, sengsara di dunia dan sengsara di akhirat kelak (naudzubillah).

 

Sebagian orang mengistilahkan waktu dengan uang atau time is money, namun (dalam Islam) bagi seorang mukmin, waktu itu diibaratkan sebagai pedang, jika kita tidak menebaskannya maka ia yang akan menebasmu, sebagaimana di sebutkan dalam kitab Al Jawaabul Kaafi karya Ibnul Qayyim disebutkan bahwa Imam Syafi’i pernah mendapatkan pelajaran dari orang sufi. Inti nasehat tersebut terdiri dari dua penggalan kalimat berikut:

  

Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.” (mutiara hikmah) sumber : https://rumaysho.com/2782-waktu-laksana-pedang-Muhammad Abduh Tuasikal, MSc.

 

Waktu yang ada tidak dipergunakan untuk belajar, menuntut ilmu, beribadah dan melakukan amal-amal sholeh sertra hal-hal bermanfaat lainnya, hanya bersenda gurau dan berhura-hura dan bermaksiat sehingga hasil yang didapat atau ditemui hanyalah kesiasiaan.  Bayangkan jika waktu yang Allah berikan itu tak pernah dipakai beribadah, maka kesengsaraanlah yang akan dijumpai, sengsara di dunia dan sengsara di akhirat kelak (naudzubillah).

 

Begitu juga dalam menuntut ilmu dan bekerja, jika selalu bersungguh-sungguh, maka kesuksesan dan kebahagiaanlah yang akan dipetik hasilnya. Sesungguhnya orang yang merugi adalah orang yang tidak menghargai waktu.

 

Nabi Muhammad SAW bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya dan seburuk manusia adalah yang panjang umurnya dan buruk amalnya.” (H.R Tirmidzi).

 

Saat kita membaca membaca hadist ini, ada 2 (dua) hal yang melekat pada manusia, yakni umur dan amal. Ini adalah pilihan, semuanya tergantung kita. Bagaimana kita menggunakan umur dan waktu yang Allah berikan, apakah diisi dengan amal-amal sholeh dan baik ataukah dengan amalan jelek (naudzubillah).

 

Pada saat sekarang ini banyak sekali hal yang melalaikan kita dalam kehidupan. Teknologi yang semakin canggih, menyebabkan pengunaan alat komunikasi HP/Gadget sangat banyak menyita waktu kita, belum lagi games yang tersedia yang dapat dimainkan anak-anak, semakin melalaikan mereka serta dapat menumbuhkan sifat malas disebabkan keasyikan memainkannya. Jika tidak disikapi dengan bijak, maka hal ini akan menjadi penyesalan di kemudian hari, baik untuk orang tua maupun anak itu sendiri.

 

Ingatlah...!! Anak-anak, remaja, dewasa, tua semuanya akan mati. Semuanya menunggu giliran dan waktu yang telah ditentukan (Faidzaaja ajaluhum laa yasta’khiruuna saatan walaa yastaqdimuun).

 

Wallahu’alam bisshawab.