Menanamkan Sikap dan Nilai-Nilai Kepahlawanan dalam Diri Kita
(Catatan nilai-nilai kepahlawanan dalam rangka Hari Pahlawan)
Oleh : R.Djuniarsono, S.H.,M.H (Dosen
Fakultas Hukum Universitas Djuanda)
Tanggal
10 November menjadi memori bagi bangsa Indonesia, karena tanggal tersebut tepatnya
pada tanggal 10 November 1945 terjadi pertempuran besar pasca kemerdekaan yang
disebut sebagai pertempuran Surabaya yang dipicu oleh kehadiran pasukan sekutu,
Inggris dan Belanda di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945 untuk
mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia. Tragedi ini kemudian dikenal
dengan Peristiwa 10 November 1945 yang kemudian oleh Presiden Pertama RI, Ir.
Sukarno atas usulan Sumarno dalam Rapat Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia
(BPKRI) di Yogyakarta pada tanggal 4 Oktober 1945 ditetapkan sebagai Hari
Pahlawan. Kejadian tersebut merupakan wujud pengorbanan yang telah ditorehkan
oleh para pahlawan untuk merebut kembali dan mempertahankan kemerdekaan.
Peringatan
Hari Pahlawan tidak hanya menjadi seremoni tahunan berupa upacara dan tabur
bunga, namun harus dijadikan spirit kepahlawanan untuk memotivasi dan pemicu
semangat bagi rakyat Indonesia untuk berbuat sesuatu yang lebih baik dan
merdeka dari kebodohan dan kemiskinan. Untuk itu semua kalangan masyarakat
Indonesia sudah seyogyanya menaruh kesadaran pada pentingnya mengingat alur
perjuangan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan dan berbuat untuk Indonesia, dan
menjadi pejuang dan pahlawan pembangunan. Kepahlawanan bukanlah eksistensi
semata agar nama diukir dibatu prasasti sejarah untuk dikenang. Lebih dari itu
setiap pengorbanan yang dilakukan merupakan niat suci dan tulus untuk
memberikan kehidupan yang adil dan makmur bagi bangsanya sendiri dan kita bertanggungjawab
bersama untuk mengawal skenario berbangsa dan bernegara tanpa membedakan suku,
ras dan agama serta tidak menindas pihak manapun.
Perjuangan
saat ini bukanlah mengangkat senjata, bergerilya menuju medan perang fisik yang
mengorbankan jiwa raga, akan tetapi semangat perjuangan yang dicontohkan oleh
para pejuang dimasa lalu diharapkan dapat memberikan motivasi pada generasi
sekarang agar semakin percaya diri untuk menjadi bangsa yang mandiri di
berbagai bidang kehidupan dan bernegara. Semangat itu hendaknya terpatri dalam
diri setiap warga negara untuk bangkit bekerja bahu membahu menghadapi
tantangan global yang semakin berat untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat di
masa yang akan datang. Semangat persatuan, gotong royong haruys tetap dipupuk,
perlu terus digalakan untuk mengembalikan semangat perjuangan yang kini
mengalami degradasi. Hal ini dapat kita lihat di televisi atau kita baca
dimedia cetak dan elektronik banyaknya terjadi tawuran pelajar, pertikaian elit
politik yang mengejar kekuasaan sesaat dengan menghalalkan segala cara, hoak,
fitnah, kriminalisasi dan lain-lain.
Perlu
renungan dan bertanya, Benarkah atas nama keadilan kobaran semangat juang itu
ada dibalik anarkisme dan vandalisme aksi ? Sudahkan kita tergerak berjuang
untuk membantu sesama yang kesusahan tanpa berdalih kesibukan ? Apakah kita sudah berprestasi tanpa ego untuk
mengedukasi diri sendiri ? Semoga semua itu menjadi semangat juang bersama yang
terus berkobar untuk kepentingan dan kemaslahatan dan jauh dari permasalahan.
Memperingati
Hari Pahlawan jangan hanya menjadi seremoni belaka dan hanya sekedar mengenang
jasa-jasa para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa, raga, harta benda dan
keluarga tetapi keteladanan yang dicontohkan oleh para pahlawan Kusuma Bangsa
bukan saja keberanian, keihklasan dan ketulusan mendarmabaktikan hidupnya untuk
bangsa dan negara tanpa pamrih, tanpa mengharapkan imbalan dan penghargaan
tetapi bagaimana mereka memikirkan nasib rakyat dan bangsa ini agar terbebas
dari cengkraman penjajah, bebas dari ketergangtungan, bebas dari kemiskinan dan
Merdeka untuk hidup di bumi Pertiwi, sebagaimana yang dapat kita baca dari
kisah-kisah keteladanan para Nabi dan Rasul.
Allah
dalam Al-Qur’an banyak mengisahkan keteladanan pahlawan kemanusiaan, seperti :
·
Kisah Nabi Nuh As yang membangun kapal ditengah gurun
pasir untuk menyelamatkan kaumnya dari musibah banjir besar, termasuk
menyelamatkan hewan-hewan.
·
Kisah Nabi Ibrahim As yang memberi contoh keteladanan
bagaimana melawan penguasa yang tiran dan zolim pada masa raja Namroed atau
Naram sin yang melakukan politisasi agama demi memperbudak masyarakat,
menjauhkan masyarakat dari agama Allah dengan mendukung dan memback-up kalangan
islamophia.
·
Kisah Nabi Yusuf As, putra Nabi Yakub As yang tampil
sebagai pahlawan Mesir pada masanya yang membebaskan penguasa Mesir dari
ulama-ulama sesat dan menyesatkan pimpinan penguasa kuil pada masa Hamman.
Kemudian Nabi Yusuf As mengajak Firaun Raja Mesir untuk memeluk agama Islam.
Dengan ajaran Islam, Nabi Yusuf As menjalankan system ekonomi bagi hasil
terhadap seluruh petani di negeri Mesir, untuk menyelamatkan perekonomian
negeri itu dari musim kemarau Panjang selama tujuh tahun.
·
Selanjutnya kisah Nabi Musa As dan Harun As, menjadi
pahlawan terhadap penindasan bani Israel (turunan Nabi Yakub As, Nabi Yusuf As,
400 tahun sebelum era Nabi Musa As) terhadap buruh melalui berbagai kebijakan
yang tidak menghargai hak-hak buruh, adalah ciri khas dari kepahlawanan Nabi
Musa As.
·
Kemudian ada kisah Nabi Dawud As dan Putranya Nabi
Sulaiman As yang keduanya melawan tokoh-tokoh penguasa yahudi yang menerapkan
ekonomi riba dalam masyarakat, melawan para penyihir yang mencoba merampas
kekuasaan Nabi Sulaiman As.
·
Nabi Isa As, pahlawan di tengah kaumnya yang
membebaskan mereka dari Penguasa Romawi yang paganis. Memberikan dakwah dan
pencerahan tentang bagaimana mengatasi penyakit kusta yang menular dengan
penjelasan yang ilmiah guna melawan tahayyul yang menganggap kusta sebagai
kutukan akibat tidak memberikan sesajen kepada berhala.
·
Dan kisah fenomenal dari Rasulullah Muhammad SAW,
sebagai sosok rahmatan lilalamiin yang oleh Allah di utus ditengah-tengah
situasi manusia mengalami kegelapan untuk membangun beradaban yang terus
berlanjut hingga saat ini.
Dan
banyak lagi kisah-kisah pahlawan yang diceritakan dalam Al-Qur’an, yang intinya
pahlawan itu manusia yang berjuang bagi kemanusiaan. Di Indonesia para relawan
dari LSM dan organisasi keagamaan dan kemasyarakatan (ormas) dan para ulama
yang senantiasa mendorong kepada akhlak yang baik, jika orientasi usahanya dan
dakwahnya demi kemanusiaan dan dilakukan dengan ihklas, maka mereka itu adalah
pahlawan. Sayangnya banyak para penguasa
“Yahudi” termasuk siapa saja yang secara karakter seperti Yahudi yang menguasai
system kapitalisme dunia dewasa ini, justru melakukan penindasan terhadap
buruh-buruh mereka dengan dalih modernisasi industry.
Masa telah berganti, begitu pula bentuk perjuangan tidak
lagi bergerilya di medan perang angkat senjata, kehilangan nyawa harta benda
dan keluarga, tetapi tantangan kita saat ini lebih kompleks, ancaman terbesar justru
hadir saat kita tak saling menjaga persatuan dan kesatuan. Apalagi, dengan maraknya
ujaran kebencian, hoax dan fitnah, menyebarkan perpecahan, mengolah perbedaan
menjadi permusuhan dan lain-lain. Negeri ini butuh figur pahlawan masa kini
yang penuh dedikasi, berprestasi, berahklak yang memiliki karakter tauhid dalam
dirinya untuk berkontribusi dalam membangun bangsa ini.
Untuk itu, kini saatnya satukan tekad, satukan langkah,
satukan visi misi menjadi jiwa patriot, berkarakter, berilmu dan berahklak
untuk mengimplementasikan nilai-nilai
juang dengan ide, gagasan dan inovasi baru untuk membangun bangsa ini lebih
baik. Jadikan peringatan Hari Pahlawan ini sebagai momentum bagi kita untuk
melakukan introspeksi diri. Berkaca terhadap diri sendiri tentang seberapa jauh
kita mewarisi nilai-nilai kepahlawanan yang sesungguhnya, melanjutkan
perjuangan, mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif yang membangun demi
mencapai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sejahtera, adil,
Makmur, “Gemah ripah loh jinawi” berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Selamat
memperingati Hari Pahlawan 10 November 2022.