[email protected] 0251-8240773
Informasi

Menanamkan Sikap dan Nilai-Nilai Kepahlawanan dalam Diri Kita

(Catatan nilai-nilai kepahlawanan dalam rangka Hari Pahlawan)


Oleh : R.Djuniarsono, S.H.,M.H (Dosen Fakultas Hukum Universitas Djuanda)

 

Tanggal 10 November menjadi memori bagi bangsa Indonesia, karena tanggal tersebut tepatnya pada tanggal 10 November 1945 terjadi pertempuran besar pasca kemerdekaan yang disebut sebagai pertempuran Surabaya yang dipicu oleh kehadiran pasukan sekutu, Inggris dan Belanda di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945 untuk mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia. Tragedi ini kemudian dikenal dengan Peristiwa 10 November 1945 yang kemudian oleh Presiden Pertama RI, Ir. Sukarno atas usulan Sumarno dalam Rapat Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BPKRI) di Yogyakarta pada tanggal 4 Oktober 1945 ditetapkan sebagai Hari Pahlawan. Kejadian tersebut merupakan wujud pengorbanan yang telah ditorehkan oleh para pahlawan untuk merebut kembali dan mempertahankan kemerdekaan.

 

Peringatan Hari Pahlawan tidak hanya menjadi seremoni tahunan berupa upacara dan tabur bunga, namun harus dijadikan spirit kepahlawanan untuk memotivasi dan pemicu semangat bagi rakyat Indonesia untuk berbuat sesuatu yang lebih baik dan merdeka dari kebodohan dan kemiskinan. Untuk itu semua kalangan masyarakat Indonesia sudah seyogyanya menaruh kesadaran pada pentingnya mengingat alur perjuangan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan dan berbuat untuk Indonesia, dan menjadi pejuang dan pahlawan pembangunan. Kepahlawanan bukanlah eksistensi semata agar nama diukir dibatu prasasti sejarah untuk dikenang. Lebih dari itu setiap pengorbanan yang dilakukan merupakan niat suci dan tulus untuk memberikan kehidupan yang adil dan makmur bagi bangsanya sendiri dan kita bertanggungjawab bersama untuk mengawal skenario berbangsa dan bernegara tanpa membedakan suku, ras dan agama serta tidak menindas pihak manapun.

 

Perjuangan saat ini bukanlah mengangkat senjata, bergerilya menuju medan perang fisik yang mengorbankan jiwa raga, akan tetapi semangat perjuangan yang dicontohkan oleh para pejuang dimasa lalu diharapkan dapat memberikan motivasi pada generasi sekarang agar semakin percaya diri untuk menjadi bangsa yang mandiri di berbagai bidang kehidupan dan bernegara. Semangat itu hendaknya terpatri dalam diri setiap warga negara untuk bangkit bekerja bahu membahu menghadapi tantangan global yang semakin berat untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat di masa yang akan datang. Semangat persatuan, gotong royong haruys tetap dipupuk, perlu terus digalakan untuk mengembalikan semangat perjuangan yang kini mengalami degradasi. Hal ini dapat kita lihat di televisi atau kita baca dimedia cetak dan elektronik banyaknya terjadi tawuran pelajar, pertikaian elit politik yang mengejar kekuasaan sesaat dengan menghalalkan segala cara, hoak, fitnah, kriminalisasi dan lain-lain.

 

Perlu renungan dan bertanya, Benarkah atas nama keadilan kobaran semangat juang itu ada dibalik anarkisme dan vandalisme aksi ? Sudahkan kita tergerak berjuang untuk membantu sesama yang kesusahan tanpa berdalih kesibukan ?  Apakah kita sudah berprestasi tanpa ego untuk mengedukasi diri sendiri ? Semoga semua itu menjadi semangat juang bersama yang terus berkobar untuk kepentingan dan kemaslahatan dan jauh dari permasalahan.

 

Memperingati Hari Pahlawan jangan hanya menjadi seremoni belaka dan hanya sekedar mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa, raga, harta benda dan keluarga tetapi keteladanan yang dicontohkan oleh para pahlawan Kusuma Bangsa bukan saja keberanian, keihklasan dan ketulusan mendarmabaktikan hidupnya untuk bangsa dan negara tanpa pamrih, tanpa mengharapkan imbalan dan penghargaan tetapi bagaimana mereka memikirkan nasib rakyat dan bangsa ini agar terbebas dari cengkraman penjajah, bebas dari ketergangtungan, bebas dari kemiskinan dan Merdeka untuk hidup di bumi Pertiwi, sebagaimana yang dapat kita baca dari kisah-kisah keteladanan para Nabi dan Rasul.

 

Allah dalam Al-Qur’an banyak mengisahkan keteladanan pahlawan kemanusiaan, seperti :

·        Kisah Nabi Nuh As yang membangun kapal ditengah gurun pasir untuk menyelamatkan kaumnya dari musibah banjir besar, termasuk menyelamatkan hewan-hewan.

·        Kisah Nabi Ibrahim As yang memberi contoh keteladanan bagaimana melawan penguasa yang tiran dan zolim pada masa raja Namroed atau Naram sin yang melakukan politisasi agama demi memperbudak masyarakat, menjauhkan masyarakat dari agama Allah dengan mendukung dan memback-up kalangan islamophia.

·        Kisah Nabi Yusuf As, putra Nabi Yakub As yang tampil sebagai pahlawan Mesir pada masanya yang membebaskan penguasa Mesir dari ulama-ulama sesat dan menyesatkan pimpinan penguasa kuil pada masa Hamman. Kemudian Nabi Yusuf As mengajak Firaun Raja Mesir untuk memeluk agama Islam. Dengan ajaran Islam, Nabi Yusuf As menjalankan system ekonomi bagi hasil terhadap seluruh petani di negeri Mesir, untuk menyelamatkan perekonomian negeri itu dari musim kemarau Panjang selama tujuh tahun.

·        Selanjutnya kisah Nabi Musa As dan Harun As, menjadi pahlawan terhadap penindasan bani Israel (turunan Nabi Yakub As, Nabi Yusuf As, 400 tahun sebelum era Nabi Musa As) terhadap buruh melalui berbagai kebijakan yang tidak menghargai hak-hak buruh, adalah ciri khas dari kepahlawanan Nabi Musa As.

·        Kemudian ada kisah Nabi Dawud As dan Putranya Nabi Sulaiman As yang keduanya melawan tokoh-tokoh penguasa yahudi yang menerapkan ekonomi riba dalam masyarakat, melawan para penyihir yang mencoba merampas kekuasaan Nabi Sulaiman As.

·        Nabi Isa As, pahlawan di tengah kaumnya yang membebaskan mereka dari Penguasa Romawi yang paganis. Memberikan dakwah dan pencerahan tentang bagaimana mengatasi penyakit kusta yang menular dengan penjelasan yang ilmiah guna melawan tahayyul yang menganggap kusta sebagai kutukan akibat tidak memberikan sesajen kepada berhala.

·        Dan kisah fenomenal dari Rasulullah Muhammad SAW, sebagai sosok rahmatan lilalamiin yang oleh Allah di utus ditengah-tengah situasi manusia mengalami kegelapan untuk membangun beradaban yang terus berlanjut hingga saat ini.

Dan banyak lagi kisah-kisah pahlawan yang diceritakan dalam Al-Qur’an, yang intinya pahlawan itu manusia yang berjuang bagi kemanusiaan. Di Indonesia para relawan dari LSM dan organisasi keagamaan dan kemasyarakatan (ormas) dan para ulama yang senantiasa mendorong kepada akhlak yang baik, jika orientasi usahanya dan dakwahnya demi kemanusiaan dan dilakukan dengan ihklas, maka mereka itu adalah pahlawan. Sayangnya  banyak para penguasa “Yahudi” termasuk siapa saja yang secara karakter seperti Yahudi yang menguasai system kapitalisme dunia dewasa ini, justru melakukan penindasan terhadap buruh-buruh mereka dengan dalih modernisasi industry.

 

Masa telah berganti, begitu pula bentuk perjuangan tidak lagi bergerilya di medan perang angkat senjata, kehilangan nyawa harta benda dan keluarga, tetapi tantangan kita saat ini lebih kompleks, ancaman terbesar justru hadir saat kita tak saling menjaga persatuan dan kesatuan. Apalagi, dengan maraknya ujaran kebencian, hoax dan fitnah, menyebarkan perpecahan, mengolah perbedaan menjadi permusuhan dan lain-lain. Negeri ini butuh figur pahlawan masa kini yang penuh dedikasi, berprestasi, berahklak yang memiliki karakter tauhid dalam dirinya untuk berkontribusi dalam membangun bangsa ini.

 

Untuk itu, kini saatnya satukan tekad, satukan langkah, satukan visi misi menjadi jiwa patriot, berkarakter, berilmu dan berahklak untuk mengimplementasikan  nilai-nilai juang dengan ide, gagasan dan inovasi baru untuk membangun bangsa ini lebih baik. Jadikan peringatan Hari Pahlawan ini sebagai momentum bagi kita untuk melakukan introspeksi diri. Berkaca terhadap diri sendiri tentang seberapa jauh kita mewarisi nilai-nilai kepahlawanan yang sesungguhnya, melanjutkan perjuangan, mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif yang membangun demi mencapai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sejahtera, adil, Makmur, “Gemah ripah loh jinawi” berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

 

 

Selamat memperingati Hari Pahlawan 10 November 2022.