Pemuda Itu Bukan Usia, Tapi Mentalitas
Tulisan Dalam Rangka Memperingati Hari Sumpah
Pemuda
Oleh Berry Sastrawan, S.Sos., M.A.P (Dosen Program Studi Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial, Ilmu Politik dan Ilmu Komputer Universitas Djuanda)
Menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan bahwa yang
disebut dengan pemuda adalah mereka yang berusia 16 sampai dengan 30 tahun,
menurut data BPS Tahun 2020 Indonesia saat ini memiliki jumlah Penduduk
sebanyak 270,20 juta Jiwa, ada fakta menarik bahwa sebanyak 53,81% adalah
generasi Millenial dan Generasi Z, yang
tentu notabene adalah pemuda yang memiliki usia sangat produktif. Apalagi
Indonesia 2035 mengalami Bonus Demografi dimana usia produktif tentu lebih
banyak daripada usia yang tidak produktif.
Namun yang
menjadi pertannyan adalah bagaimana kondisi pemuda saat ini ? bagaimana
persiapan kita selaku bangsa Indonesia ini mengarahkan pemuda kedepannya ?
apabila kita melihat beberapa berita ke belakang pemuda saat ini ada yang
membanggakan ada juga yang membuat kita mengelus dada. Beberapa fenomena yang
ada seperti fenomena tawuran antar pelajar menurut data Badan Pusat Statistik
(BPS), sepanjang 2021 ada 188 desa/kelurahan di seluruh Indonesia yang menjadi
arena perkelahian massal antar pelajar atau mahasiswa, kekerasan seksual, dan
narkoba. Hal lainnya bagaimana tergerusnya budaya lokal yang kini jarang diminati
para pemuda, sekarang pemuda lebih tahu idola selebriti daripada mengenal
pahlawan Indonesia, sulitnya mencari tontonan yang menjadi tuntunan membuat
sebagian pemuda saat ini kurangnya adab dan etika kepada sesame dan yang lebih
tua. Belum lagi kecanduan gadget dengan adanya game online yang menguras waktu
sehingga membuat tingkat literasi kita sangat kecil termasuk bagaimana rataan
IQ kita di ranking ke 10 dari 11 negara Asean. Namun disisi lain ada juga
pemuda yang memiliki prestasi dan kesuksesan di Usia muda sebagai contoh ada
Amanda Cole yang masuk dalam Majalah Forbes karena memiliki inovasi dalam
wirausaha yaitu sayurbox, ada juga Aries Susanti seorang wanita atlet panjat
tebing yang berhasil memecahkan rekor dunia sebagai pemanjat tercepat tahun
2019 dan masih banyak lagi pemuda seperti influencer dan lain sebagainya yang
menginpirasi dan membanggakan. Terlepas dari privilege yang kita miliki,
yang pasti setiap kita harus memiliki mental yang kuat seperti pantang
menyerah.
Kondisi
mental inilah yang harus dilatih pemuda saat ini, pemuda yang lahir dalam
kondisi negara yang belum merdeka, memiliki daya tahan mental yang lebih kuat
dan memiliki rasa persatuan yang kuat juga, karena pada saat itu semua pribumi
memiliki musuh yang sama dan nyata didepan mata yaitu para penjajah. Banyak
sejarah membuktikan bahwa orang-orang sukses diuji dengan kesulitan, kesusahan,
dan banyak kegagalan yang kemudian apabila dia memiliki mental tidak mudah
menyerah, memiliki ketahanmalangan (adversity) yang baik, maka bukan
sesuatu yang tidak mungkin keberhasilan bisa dicapai.
Keberhasilan Kongres Pemuda II ini membuktikan bahwa kekuatan persatuan tanpa memandang dari suku manapun, ras manapun, agama apapun, apabila kita hanya melihat kesamaan maka persatuan itu akan terjadi. Kongres yang di hadiri menurut sumber sejarah yang hadir kurang lebih sekitar 750 orang yang berkumpul dalam kongres tersebut dari berbagai daerah bahkan tidak hanya asli pribumi, namun ada juga keturunan tionghoa yang hadir da nada 6 perempuan yang hadir, namun dalam sumpah pemuda, tetap disebutkan putra dan putri Indonesia untuk bersatu dalam tanah air, bangsa dan bahasa. Cita-cita persatuan yang tentu untuk kemerdekaan tersebut baru bisa terimplementasikan setelah 17 tahun kemudian, artinya cita-cita pemuda pada saat itu tidak bisa diremehkan. Sebetulnya Apapun zamannya pemuda paling tidak memiliki 4 karakter utama yaitu keimanan, keihlasan, semangat dan amal. Keimanan maksudnya adalah hati yang bersih, keikhlasan adalah jiwa yang suci, semangat adalah keinginan yang kuat dan amal adalah semngat yang membara dan keempat ini ada pada semua pemuda.
Salahsatu
pemuda yang memiliki karakter tersebut adalah Mohammad Yamin seorang pemuda
cerdas dari minangkabau yang merumuskan teks sumpah pemuda yang saat itu
sebagai sekretaris dalam Kongres Pemuda II, secara mendadak beliau membuat 3
point teks hasil kesimpulan dari keputusan kongres II pemuda tersebut kepada
ketua kongres Soegondo yang tentu beliau sudah memikirkan dengan matang ketiga
point tersebut karena memang sebelumnya beliau merupakan seorang penulis sastra
yang produktif, sehingga apabila kita lihat teksnya seperti syair yang begitu
tertata dengan baik kata-katanya, dan ketika Soegondo melihat teks tersebut
langsung beliau teken sebagai tanda setuju. Untuk usia 25 tahun pada tahun
1928, Mohammad Yamin termasuk pemuda yang brilian dan cerdas dalam menginisiasi
deklarasi tersebut. Tentu pemuda yang sekarang sekitar 20 hingga 30 tahun
merasa insecure melihat bagaimana kiprah beliau berkontribusi dalam
kemerdekaan Indonesia. Maka dari itu, pemuda itu sebetulnya bukan hanya masalah
usia, namun adalah sebuah mental. Berapapun usia kita, namun apabila memiliki
mental-mental pemuda, maka ia disebut dengan pemuda.
Lalu
dimanakah mental pemuda yang tangguh ini dibentuk ? maka yang menjadi
jawabannya dan harapannya adalah pada pemuda yang memiliki intelektualitas yang
baik, yaitu di perguruan tinggi atau kampus. Perguruan Tinggi harus bisa
mencetak pemimpin-pemimpin selanjutnya sebagai penerus estafet kepemimpinan
bangsa kedepan. Maka dari itu, salahsatunya perguruan tinggi itu adalah
Universitas Djuanda yang memiliki motto Kampus bertauhid, yang didalamnya
memiliki filosofi 21 karakter tauhid yang didalam karakter tersebut harus
dimiliki oleh setiap pemimpin. Maka penulis meyakini, apabila setiap kita
sebagai pemuda muslim hingga menjadi pemimpin kelak memegang dengan erat
prinsip ketauhidan secara konsisten, maka pemuda muslim tersebut akan jauh dari
kedzoliman dan kemaksiatan.