[email protected] 0251-8240773
Informasi

Wanita Sebagai Pemimpin dalam Perspektif Islam

Apakah Wanita boleh jadi pemimpin?

Dalam surat An Nisa ayat 34.

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar.”

Berdasarkan surah ini seolah-olah wanita tidak bisa jadi pemimpin dan banyak kalangan manusia yang menggunakan dalil ini sebagai alas an untuk menolak perempuan menjadi pemimpin.

Pada dasarnya Allah SWT menciptakan hambanya, baik itu laki-laki maupun perempuan semata-mata bertujuan untuk mendarma-baktikan dirinya kepada yang
Maha Kuasa yakni Allah SWT. Agama islam datang kemuka bumi ini membawa
ajaran egaliter, yaitu memandang manusia itu secara setara atau sederajat, dengan
tidak membeda-bedakan ras, kasta, jenis kelamin, jenis kulit, dll. Dalam islam yang
membedakan seseorang dengan yang lain ialah kualitas ketakwaannya, kebaikannya
selama hidup di dunia, dan warisan amal baik yang ditinggalkannya setelah
meninggal. Ini sesuai dengan bunyi ayat yang dituangkan dalam Quran surah Al-
Hujurat ayat 13. Dengan demikian, Islam tidak pernah membeda-bedakan antara laki-
laki dan perempuan, baik dalam hal kedudukan, harkat, martabat, kemampuan, dan

kesempatan untuk berkarya.

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (AlHujurat ayat 13)

Perempuan identik dengan sosok yang lemah, halus,
emosional, baperan, dan lain-lain. Sedangkan laki-laki, digambarkan sebagai sosok
gagah, pemberani, bertanggungjawab, rasional, dan masih banyak lagi. Penggambaran
seperti inilah yang membuat posisi perempuan itu sebagai makhluk Tuhan yang
seolah-olah harus dilindungi, dan senantiasa bergantung pada kaum laki-
laki. Akibatnya, jarang sekali perempuan itu bisa tampil menjadi seorang pemimpin,
karena mereka tersingkirkan dengan laki-laki

Akan tetapi, perempuan memiliki sifat-sifat khusus dan alamiah yang
diberikan oleh Allah SWT yang membedakannya dengan pria.Sehingga sifat-sifat ini
dapat perempuan manfaatkan untuk melaksanakan kepemimpinan dalam kondisi yang
sesuai baginya.

1.   Partisipasi
Jumlah perempuan saat ini lebih banyak dari laki-laki, bahkah setengah
jumlah masyarakat. Saat ini, perempuan memiliki peran dalam semua perubahan
ideologi dan pemikiran. Salah satu bentuk partisipasi yang perempuan bisa
lakukan adalah musyawarah dalam proses pengembalian keputusan. Perempuan
menyenangi musyawarah, mengungkapkan perasaan, dan partisipasi.Ini
merupakan sifat yang baik dan dianjurkan oleh pakar manajemen kepada semua
pemimpin perempuan masa kini.

2.   Memahami kebutuhan sesama perempuan

Perempuan lebih mampu memahami kebutuhan-kebutuhan sesame perempuannya daripada pria, karena perempuan memiliki peran lebih besar dalam ekonomi. Dan juga perempuan memiliki peran yang besar terhadap segala keputusan-keputusan yang penting berhubungan dengan rumah tangga, pendidikan, kesehatan, membeli rumah, dan lain-lain. Oleh karena itu, sangat penting bagi semua perusahaan untuk memahami cara perempuan berpikir dan mengambil keputusan.Oleh karena itu, Umar Bin Khatab lebih mempercayai dan menunjuk seorang perempuan untuk mengawasi pasar dan harga barang. Jadi, baik
dalam masalah ekonomi yang bersifat pribadi maupun yang khusus yanberhubungan dengan perempuan, perempuan lebih mampu mengaturnya daripada
laki-laki.

3.   Pelimpahan dan pemberian wewenang

Dua orang peneliti perempuan Judith Rziner dan Selly Helgusen, dalam
buku “The Female Advantage” mereka tuangkan penelitian yang menunjukkan
bahwa perempuan lebih lembut dalam bekerja daripada pria.Perempuan lebih
banyak memberikan wewenang bagi para pegawainya daripada pria. Perempuan
lebih memberikan kebebasan dalam hal mengambil keputusan, sehingga
menjadikan tim yang semangat dan solid.

4.   Berpandangan jauh ke depan

Perempuan lebih berpandangan jauh ke masa depan yang akan datang, baik
didunia maupun akhirat. Banyak kajian yang telah membuktikan bahwa
perempuan lebih gemar dan bersemangat mengumpulkan informasi-informasi
daripada pria, dengan begitu ia lebih memiliki pandangan yang jauh ketimbang
pria. Pandangan yang jauh ini terkadang menembus ke dunia akhirat, sebagaimana
yang dilakukan oleh istri dari seorang Raja Firaun ketika ia meninggalkan
kenikmatan dunia dan kemegahan istana dan berkata dengan bahasa masa depan.
Ini sesuai dengan bunyi ayat dalam al-Qur‟an yang artinya: “Ya Tuhanku!
bangunkanlah untukku rumah disisi-Mu dalam surga.” (at-Tahriim : 11).

 Ayat lain yang menjelaskan persamaan laki-laki dan perempuan

                    “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Albaqoroh, ayat 30).

Dari firman di atas sudah jelas sekali, bahwa setiap orang bisa menjadi
pemimpin. Baik itu laki-laki maupun perempuan .Akan tetapi, pemimpin disini
memiliki banyak makna dan cakupan yang luas.Bisa saja kita seorang perempuan
menjadi pemimpin pemerintahan, pemimpin pendidikan, pemimpin keluarga, dan
kalau bisa menjadi pemimpin bagi diri kita sendiri. Dikuatkan dengan hadist yang menyatakan

“Masing-masing kamu adalah pemimpin. Dan masing-masing kamu bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.” (Hadits Riwayat Ibn Abbas).

Sejak abad 15 silam, Al-Quran telah menghapuskan berbagai
macam diskriminasi antara laki-laki dan perempuan, Al-Quran
memberikan hak-hak kepada kaum perempuan sebagaimana hak-hak
yang diberikan kepada kaum laki-laki. Diantaranya dalam masalah
kepemimpinan, Al-Quran memberikan hak kepada kaum perempuan
untuk menjadi pemimpin, sebagaimana hak-hak yang diberikan
kepada laki-laki. Faktor yang dijadikan pertimbangan dalam hal ini
hanyalah kemampuannya dan terpenuhinya kriteria untuk menjadi
pemimpin. Jadi, kepemimpinan itu bukan monopoli kaum laki-laki,
tetapi bisa diduduki dan dijabat oleh kaum perempuan, bahkan bila
perempuan itu mampu dan memenuhi kriteria yang ditentukan, maka
ia boleh menjadi hakim dan top leader (perdana menteri atau kepala
negara). Contoh pemimpin wanita adalah Khodijah istri Rosul Aisyah ra (istri Rosulullaah), Fathimah (putri Rosullullaah), Ratu Bilqis, Cut Nyak Dien, R.A. Kartini.

Berdasarkan konsep di atas, tidak ada satu konsep pun dalam al-Quran yang
membatasi perempuan untuk menjadi seorang pemimpin. Bahkah didalam Al-Quran,
Allah SWT memerintahkan manusia untuk menjadi pemimpin. Baik itu untuk laki-laki
maupun perempuan.

Islam memberikan peluang besar kepada perempuan untuk berkarir
agar tercapai kebahagiaan dunia dan akhirat, artinya ia harus punya bekal ilmu
untuk mendidik putra dan putri menjadi muslim sejati. Islam menghendaki
agar kaum perempuan dapat mengetahui hak dan kewajibannya, memahami
tuntunan Islam dengan sempurna, cara-cara mendidik yang baik,
melaksanakan mu’ammalah dengan ketentuan yang telah diatur sedemikian
rupa, bersikap dan bekerja sesuai dengan kodrat keperempuanannya sehingga
dapat mengantar mereka kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Apalagi Islam
mempunyai tujuan pendidikan tersendiri, agar pemeluk-pemeluknya dapat
berpedoman kepada apa yang telah ditentukan dalm Al-Quran dan Hadits

Rasulullah SAW.