Wanita Sebagai Pemimpin dalam Perspektif Islam
Apakah Wanita boleh jadi
pemimpin?
Dalam surat An Nisa ayat 34.
“Laki-laki (suami) itu pelindung
bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki)
atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah
memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah
mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada,
karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan
akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di
tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika
mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya.
Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar.”
Berdasarkan surah ini seolah-olah wanita tidak bisa
jadi pemimpin dan banyak kalangan manusia yang menggunakan dalil ini sebagai
alas an untuk menolak perempuan menjadi pemimpin.
Pada dasarnya
Allah SWT menciptakan hambanya, baik itu laki-laki maupun perempuan semata-mata bertujuan untuk mendarma-baktikan
dirinya kepada yang
Maha Kuasa yakni Allah SWT. Agama islam datang kemuka
bumi ini membawa
ajaran egaliter, yaitu memandang manusia itu secara
setara atau sederajat, dengan
tidak membeda-bedakan ras, kasta, jenis kelamin,
jenis kulit, dll. Dalam islam yang
membedakan seseorang dengan yang lain ialah kualitas
ketakwaannya, kebaikannya
selama hidup di dunia, dan warisan amal baik yang
ditinggalkannya setelah
meninggal. Ini sesuai dengan bunyi ayat yang
dituangkan dalam Quran surah Al-
Hujurat ayat 13. Dengan demikian, Islam tidak pernah
membeda-bedakan antara laki-
laki dan perempuan, baik dalam hal kedudukan, harkat,
martabat, kemampuan, dan
kesempatan untuk berkarya.
“Wahai manusia! Sungguh, Kami
telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian
Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang
paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (AlHujurat ayat
13)
Perempuan identik
dengan sosok yang lemah, halus,
emosional, baperan, dan lain-lain. Sedangkan
laki-laki, digambarkan sebagai sosok
gagah, pemberani, bertanggungjawab, rasional, dan
masih banyak lagi. Penggambaran
seperti inilah yang membuat posisi perempuan itu
sebagai makhluk Tuhan yang
seolah-olah harus dilindungi, dan senantiasa
bergantung pada kaum laki-
laki. Akibatnya, jarang sekali perempuan itu bisa
tampil menjadi seorang pemimpin,
karena mereka tersingkirkan dengan laki-laki
Akan tetapi,
perempuan memiliki sifat-sifat khusus dan alamiah yang
diberikan oleh Allah SWT yang membedakannya dengan
pria.Sehingga sifat-sifat ini
dapat perempuan manfaatkan untuk melaksanakan
kepemimpinan dalam kondisi yang
sesuai baginya.
1. Partisipasi
Jumlah perempuan saat ini lebih banyak dari
laki-laki, bahkah setengah
jumlah masyarakat. Saat ini, perempuan memiliki peran
dalam semua perubahan
ideologi dan pemikiran. Salah satu bentuk partisipasi
yang perempuan bisa
lakukan adalah musyawarah dalam proses pengembalian
keputusan. Perempuan
menyenangi musyawarah, mengungkapkan perasaan, dan
partisipasi.Ini
merupakan sifat yang baik dan dianjurkan oleh pakar
manajemen kepada semua
pemimpin perempuan masa kini.
2. Memahami kebutuhan sesama perempuan
Perempuan
lebih mampu memahami kebutuhan-kebutuhan sesame perempuannya daripada pria,
karena perempuan memiliki peran lebih besar dalam ekonomi. Dan juga perempuan memiliki peran yang besar
terhadap segala keputusan-keputusan yang
penting berhubungan dengan rumah tangga, pendidikan,
kesehatan, membeli rumah, dan lain-lain. Oleh karena itu, sangat penting bagi semua perusahaan untuk memahami cara perempuan
berpikir dan mengambil keputusan.Oleh karena itu,
Umar Bin Khatab lebih mempercayai dan menunjuk
seorang perempuan untuk mengawasi pasar dan harga barang. Jadi, baik
dalam masalah ekonomi yang bersifat pribadi maupun
yang khusus yanberhubungan dengan perempuan, perempuan lebih mampu mengaturnya
daripada
laki-laki.
3.
Pelimpahan dan
pemberian wewenang
Dua
orang peneliti perempuan Judith Rziner dan Selly Helgusen, dalam
buku “The
Female Advantage” mereka tuangkan penelitian yang menunjukkan
bahwa perempuan lebih lembut dalam bekerja daripada
pria.Perempuan lebih
banyak memberikan wewenang bagi para pegawainya
daripada pria. Perempuan
lebih memberikan kebebasan dalam hal mengambil
keputusan, sehingga
menjadikan tim yang semangat dan solid.
4. Berpandangan jauh ke depan
Perempuan
lebih berpandangan jauh ke masa depan yang akan datang, baik
didunia maupun akhirat. Banyak kajian yang telah
membuktikan bahwa
perempuan lebih gemar dan bersemangat mengumpulkan
informasi-informasi
daripada pria, dengan begitu ia lebih memiliki
pandangan yang jauh ketimbang
pria. Pandangan yang jauh ini terkadang menembus ke
dunia akhirat, sebagaimana
yang dilakukan oleh istri dari seorang Raja Firaun
ketika ia meninggalkan
kenikmatan dunia dan kemegahan istana dan berkata
dengan bahasa masa depan.
Ini sesuai dengan bunyi ayat dalam al-Qur‟an yang
artinya: “Ya Tuhanku!
bangunkanlah untukku rumah disisi-Mu dalam surga.”
(at-Tahriim : 11).
Ayat lain yang menjelaskan persamaan laki-laki dan perempuan
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Albaqoroh, ayat 30).
Dari firman di atas sudah jelas sekali, bahwa setiap
orang bisa menjadi
pemimpin. Baik itu laki-laki maupun perempuan .Akan
tetapi, pemimpin disini
memiliki banyak makna dan cakupan yang luas.Bisa saja
kita seorang perempuan
menjadi pemimpin pemerintahan, pemimpin pendidikan,
pemimpin keluarga, dan
kalau bisa menjadi pemimpin bagi diri kita sendiri.
Dikuatkan dengan hadist yang menyatakan
“Masing-masing kamu adalah pemimpin. Dan masing-masing kamu bertanggung jawab atas
yang dipimpinnya.” (Hadits Riwayat Ibn Abbas).
Sejak abad 15
silam, Al-Quran telah menghapuskan berbagai
macam diskriminasi antara laki-laki dan perempuan,
Al-Quran
memberikan hak-hak kepada kaum perempuan sebagaimana
hak-hak
yang diberikan kepada kaum laki-laki. Diantaranya
dalam masalah
kepemimpinan, Al-Quran memberikan hak kepada kaum
perempuan
untuk menjadi pemimpin, sebagaimana hak-hak yang
diberikan
kepada laki-laki. Faktor yang dijadikan pertimbangan
dalam hal ini
hanyalah kemampuannya dan terpenuhinya kriteria untuk
menjadi
pemimpin. Jadi, kepemimpinan itu bukan monopoli kaum
laki-laki,
tetapi bisa diduduki dan dijabat oleh kaum perempuan,
bahkan bila
perempuan itu mampu dan memenuhi kriteria yang
ditentukan, maka
ia boleh menjadi hakim dan top leader (perdana
menteri atau kepala
negara). Contoh pemimpin wanita adalah Khodijah istri
Rosul Aisyah ra (istri Rosulullaah), Fathimah (putri Rosullullaah), Ratu Bilqis,
Cut Nyak Dien, R.A. Kartini.
Berdasarkan konsep
di atas, tidak ada satu konsep pun dalam al-Quran yang
membatasi perempuan untuk menjadi seorang pemimpin.
Bahkah didalam Al-Quran,
Allah SWT memerintahkan manusia untuk menjadi
pemimpin. Baik itu untuk laki-laki
maupun perempuan.
Islam memberikan
peluang besar kepada perempuan untuk berkarir
agar tercapai kebahagiaan dunia dan akhirat, artinya
ia harus punya bekal ilmu
untuk mendidik putra dan putri menjadi muslim sejati.
Islam menghendaki
agar kaum perempuan dapat mengetahui hak dan
kewajibannya, memahami
tuntunan Islam dengan sempurna, cara-cara mendidik
yang baik,
melaksanakan mu’ammalah
dengan ketentuan yang telah diatur sedemikian
rupa, bersikap dan bekerja sesuai dengan kodrat
keperempuanannya sehingga
dapat mengantar mereka kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.
Apalagi Islam
mempunyai tujuan pendidikan tersendiri, agar
pemeluk-pemeluknya dapat
berpedoman kepada apa yang telah ditentukan dalm
Al-Quran dan Hadits
Rasulullah SAW.