Majelis Tasbih UNIDA: Konflik Palestina dan Israel Melalui Pendekatan Sejarah, Politik dan Budaya
Universitas
Djuanda (UNIDA) melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Tauhid (BPPT) kembali
selenggarakan kegiatan rutin ketauhidan Majelis Tasbih pada Jum’at
(10/11/2023), kegiatan majelis tasbih diisi oleh Dosen Sekolah Pascasarjana
UNIDA, Dr. Rita Rahmawati, M.Si.
Dr. Rita
Rahmawati, M.Si dalam penyampaian materi yang berjudul “Konflik Palestina Vs
Israel: Pendekatan Sejarah, Politik dan Budaya” menyatakan bahwasanya
konflik antara Palestina dan Israel merupakan konflik yang berkepanjangan dan
paling kompleks terkait faktor politik, sejarah dan budaya.
Jika bicara mengenai materi ini, maka ada
kaitannya dengan sejarah para Nabi-nabi. Nabi Ibrahim AS memiliki dua istri
yaitu Siti Hajar dan Siti Sarah, dari Siti Hajar dikarunia anak yaitu Nabi
Ismail dan dari garis Nabi Ismail berujung dilahirkannya Nabi Muhammad SAW.
Lalu dari Siti Sarah dikaruniai anak yaitu Nabi Ishak dan Nabi Ishak memiliki
anak bernama Nabi Yaqub AS, Nabi Yaqub AS ini memiliki julukan Israel. Dari
Nabi Yaqub AS memiliki anak yaitu Nabi Yusuf AS, Bunyamin, Imran dan Yahuda
(Yahuza) yang dari Yahuda ini lah kelak adanya Yahudi. Keturunan dari Yahuda
ini diantaranya Nabi Daud AS, Nabi Sulaiman AS, Nabi Zakaria AS dan Nabi Yahya
AS. Dari keturunan Nabi Yaqub AS ini lah nantinya sampai kepada Nabi Isa AS.
Konflik diawali dengan perebutan sejengkal
tanah di Yerussalem yang menjadi kota penting bagi agama-agama besar dunia
seperti Islam, Kristen, dan Yahudi. Namun sesungguhnya menyimpan agenda besar
kaum Yahudi untuk mendirikan national home-nya yang disebut dengan Israel.
Faktor-faktor yang mempengaruhi konflik diantaranya yaitu nasionalisme, migrasi
Yahudi ke Palestina dan pendirian negara Israel. Nasionalisme Yahudi atau
Zionisme Yahudi ini berusaha untuk menciptakan negara Yahudi di Palestina dan
nasionalisme Palestina bertujuan untuk mempertahankan identitas Arab serta hak
mempertahankan tanah mereka. Selama berabad-abad, walayah Palestina dihuni oleh
mayoritas penduduk Arab, termasuk Arab Palestina, komunitas Yahudi dan Kristen
dan terjadilah imigrasi Yahudi ke Palestina pada akhir abad ke 19.
Jika melihat dari pendekatan sejarah atas
tanah di Palestina dari tahun ke tahun memiliki sejarah yang panjang dan
keterkaitan dengan Nabi-nabi. Di tahun 2500 SM, Palestina merupakan nama untuk
wilayah barat daya negeri Syam yaitu wilayah yang terletak di bagian barat Asia
dan bagian pantai timur laut tengah. Di tahun 1900 SM kedatangan nabi di
Palestina diawali dengan kedatangan Nabi Ibrahim AS yang saat itu Palestina
dikuasai oleh Maliki Shadiq. Kemudian Nabi Yaqub yang memilki 12 anak dan
keturunannya dinamai Bani Israel lalu pada generasi Nabi Yusuf AS, kaum Yahudi
berpindah dari Kanaan ke Mesir.
Berlanjut sampai dengan kerajaan Nabi Daud
AS dan dilanjutkan oleh Nabi Sulaeman AS, kemudian tanah Palestina dikuasai
oleh Babilonia lalu dikuasai oleh Persia sampai pada penguasaan Romawi.
Kemudian sampai pada tahun 1948, negara Israel secara resmi didirikan yang
mengakibatkan pengusiran massal sekitar sejuta warga Arab Palestina dari tanah
meraka dan menciptakan negara mayoritas Yahudi di tanah Palestina, peristiwa
ini dikenal sebagai Nakba atau malapetaka. Dan pada 1988, deklarasi kemerdekaan
Palestina dinyatakan di Aljir oleh Dewan Nasional Palestina dan Organisasi
Pembebasan Palestina.
Dalam pendekatan sejarah, bisa dilihat dari
gerakan Zionisme yang merupakan gerakan yang berusaha membangun tanah air
Yahudi pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Pamphlet The Jawish State
yang ditulis oleh Theodor Herzl seorang Yahudi Austria-Hungaria sering dilihat
sebagai dokumen dasar Zionisme politik modern dan tujuan dari Zionisme ini
tentunya untuk membangun tanah air Yahudi di Palestina yang pada saat itu
merupakan bagian dari kekuasaan Ottoman. Selain itu jika dilihat dari sejarah,
keterkaitannya dengan Deklarasi Balfour pada tahun 1917 yang dikeluarkan oleh
Inggris pada Perang Dunia I dimana menyatakan dukungan untuk pembentukan rumah
nasional bagi Yahudi di Palestina. Kemudian adanya keputusan PBB yang
menyatakan bahwa pembagian kekuasaan Palestina di 1947 menjadi negara Yahudi
dan negara Arab yang terpisah, menandai titik balik dalam konflik
Palestina-Israel. Pemisahan ini diterima oleh pemimpin Yahudi namun ditolak
oleh pemimpin Arab lalu negara Zionis tersebut dideklarasikan oleh David Ben Gurion
pada tahun 1948.
Dari konflik Palestina dan Israel ini,
tidak lepas dari gerakan Zionis yang tokohnya diantaranya yaitu Theodore Herzl
dan Meyer Amschel Rothschild, masing-masing sebagai penggerak politik dan
penopang ekonomi bagi organisasi Zionis internasional. Gerakan tersebut
menemukan momentum pada saat terselenggaranya konferensi Zionis internasional
di Swiss. Lalu mendapatkan dukungan dari Inggris dan Perancis yang pada pasca
Perang Dunia II mendapatkan dukungan penuh dari Amerika Serikat.
Pelestina sendiri sebagai suatu negara,
dimana dalam pasal 1 Konvensi Montividio yang menyatakan bahwa salah satu
syarat berdirinya suatu negara adalah permanent population. Penduduk
Palestina yang saat ini banyak mendiami wilayah Tepi Barat dan jalur Gaza
secara tetap merupakan suatu permanent population meskipun menganut
kepercayaan yang berbeda, ada yang menganut Islam, Kristen dan Yahudi.
Konflik Palestina dan Israel diantaranya
Perang Enam Hari pada tahun 1967, perang Yom Kipur pada tahun 1973, pendudukan
Israel atas wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza pada tahun 1967 menciptakan
ketegangan dan perlawanan yang berkelanjutan dari kelompok-kelompok Palestina,
pada masa inilah muncul Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan Hamas.
Kemudian agresi-agresi yang dilakukan pada kurun waktu tiga tahun (2012-2014)
kondisi Gaza jadi tidak kondusif. Lalu konflik pada 7 Oktober 2023 lalu.
“Banyak upaya-upaya yang telah dilakukan
untuk perdamaian seperti resolusi dari PBB yang diantaranya resolusi nomor 242
dan yang lainnya. Resolusi-resolusi tersebut cukup efektif dalam menyerukan
gencatan senjata. Kemudian perjanjian Oslo 1993 menciptakan ototiritas
Palestina dan peta jalan negosiasi. Namun perjanjian damai selanjutnya
seringkali gagal menemukan resolusi akhir. Pada tahun 2006, Hamas memenangkan
Pemilu dan mengalahkan faksi Fatah, dengan kemenangan Hamas dari Pemilu
tersebut akhirnya Hamas memegang kendali akan Gaza. Puncaknya pada tanggal 27
Desember 2008 pasukan Israel menggempur Gaza dengan meluncurkan serangan udara
yang dinamakan “Operation Cast Lead” serangan militer luas terhadap
jalur Gaza, berlangsung 22 hari. Genjatan senjata baru dapat terlaksana dengan
resolusi PBB pada tanggal 8 Januari 2009 No.1860,” ungkapnya.
Simak kembali materi Majelis Tasbih tentang
Konflik Palestina Vs Israel: Pendekatan Sejarah, Politik dan Budaya secara
lengkap pada link berikut: