[email protected] 0251-8240773
Ketauhidan

Majelis Tasbih UNIDA: Konflik Palestina dan Israel Melalui Pendekatan Sejarah, Politik dan Budaya

Universitas Djuanda (UNIDA) melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Tauhid (BPPT) kembali selenggarakan kegiatan rutin ketauhidan Majelis Tasbih pada Jum’at (10/11/2023), kegiatan majelis tasbih diisi oleh Dosen Sekolah Pascasarjana UNIDA, Dr. Rita Rahmawati, M.Si.

Dr. Rita Rahmawati, M.Si dalam penyampaian materi yang berjudul “Konflik Palestina Vs Israel: Pendekatan Sejarah, Politik dan Budaya” menyatakan bahwasanya konflik antara Palestina dan Israel merupakan konflik yang berkepanjangan dan paling kompleks terkait faktor politik, sejarah dan budaya.

Jika bicara mengenai materi ini, maka ada kaitannya dengan sejarah para Nabi-nabi. Nabi Ibrahim AS memiliki dua istri yaitu Siti Hajar dan Siti Sarah, dari Siti Hajar dikarunia anak yaitu Nabi Ismail dan dari garis Nabi Ismail berujung dilahirkannya Nabi Muhammad SAW. Lalu dari Siti Sarah dikaruniai anak yaitu Nabi Ishak dan Nabi Ishak memiliki anak bernama Nabi Yaqub AS, Nabi Yaqub AS ini memiliki julukan Israel. Dari Nabi Yaqub AS memiliki anak yaitu Nabi Yusuf AS, Bunyamin, Imran dan Yahuda (Yahuza) yang dari Yahuda ini lah kelak adanya Yahudi. Keturunan dari Yahuda ini diantaranya Nabi Daud AS, Nabi Sulaiman AS, Nabi Zakaria AS dan Nabi Yahya AS. Dari keturunan Nabi Yaqub AS ini lah nantinya sampai kepada Nabi Isa AS.

Konflik diawali dengan perebutan sejengkal tanah di Yerussalem yang menjadi kota penting bagi agama-agama besar dunia seperti Islam, Kristen, dan Yahudi. Namun sesungguhnya menyimpan agenda besar kaum Yahudi untuk mendirikan national home-nya yang disebut dengan Israel. Faktor-faktor yang mempengaruhi konflik diantaranya yaitu nasionalisme, migrasi Yahudi ke Palestina dan pendirian negara Israel. Nasionalisme Yahudi atau Zionisme Yahudi ini berusaha untuk menciptakan negara Yahudi di Palestina dan nasionalisme Palestina bertujuan untuk mempertahankan identitas Arab serta hak mempertahankan tanah mereka. Selama berabad-abad, walayah Palestina dihuni oleh mayoritas penduduk Arab, termasuk Arab Palestina, komunitas Yahudi dan Kristen dan terjadilah imigrasi Yahudi ke Palestina pada akhir abad ke 19.

Jika melihat dari pendekatan sejarah atas tanah di Palestina dari tahun ke tahun memiliki sejarah yang panjang dan keterkaitan dengan Nabi-nabi. Di tahun 2500 SM, Palestina merupakan nama untuk wilayah barat daya negeri Syam yaitu wilayah yang terletak di bagian barat Asia dan bagian pantai timur laut tengah. Di tahun 1900 SM kedatangan nabi di Palestina diawali dengan kedatangan Nabi Ibrahim AS yang saat itu Palestina dikuasai oleh Maliki Shadiq. Kemudian Nabi Yaqub yang memilki 12 anak dan keturunannya dinamai Bani Israel lalu pada generasi Nabi Yusuf AS, kaum Yahudi berpindah dari Kanaan ke Mesir.

Berlanjut sampai dengan kerajaan Nabi Daud AS dan dilanjutkan oleh Nabi Sulaeman AS, kemudian tanah Palestina dikuasai oleh Babilonia lalu dikuasai oleh Persia sampai pada penguasaan Romawi. Kemudian sampai pada tahun 1948, negara Israel secara resmi didirikan yang mengakibatkan pengusiran massal sekitar sejuta warga Arab Palestina dari tanah meraka dan menciptakan negara mayoritas Yahudi di tanah Palestina, peristiwa ini dikenal sebagai Nakba atau malapetaka. Dan pada 1988, deklarasi kemerdekaan Palestina dinyatakan di Aljir oleh Dewan Nasional Palestina dan Organisasi Pembebasan Palestina.

Dalam pendekatan sejarah, bisa dilihat dari gerakan Zionisme yang merupakan gerakan yang berusaha membangun tanah air Yahudi pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Pamphlet The Jawish State yang ditulis oleh Theodor Herzl seorang Yahudi Austria-Hungaria sering dilihat sebagai dokumen dasar Zionisme politik modern dan tujuan dari Zionisme ini tentunya untuk membangun tanah air Yahudi di Palestina yang pada saat itu merupakan bagian dari kekuasaan Ottoman. Selain itu jika dilihat dari sejarah, keterkaitannya dengan Deklarasi Balfour pada tahun 1917 yang dikeluarkan oleh Inggris pada Perang Dunia I dimana menyatakan dukungan untuk pembentukan rumah nasional bagi Yahudi di Palestina. Kemudian adanya keputusan PBB yang menyatakan bahwa pembagian kekuasaan Palestina di 1947 menjadi negara Yahudi dan negara Arab yang terpisah, menandai titik balik dalam konflik Palestina-Israel. Pemisahan ini diterima oleh pemimpin Yahudi namun ditolak oleh pemimpin Arab lalu negara Zionis tersebut dideklarasikan oleh David Ben Gurion pada tahun 1948.

Dari konflik Palestina dan Israel ini, tidak lepas dari gerakan Zionis yang tokohnya diantaranya yaitu Theodore Herzl dan Meyer Amschel Rothschild, masing-masing sebagai penggerak politik dan penopang ekonomi bagi organisasi Zionis internasional. Gerakan tersebut menemukan momentum pada saat terselenggaranya konferensi Zionis internasional di Swiss. Lalu mendapatkan dukungan dari Inggris dan Perancis yang pada pasca Perang Dunia II mendapatkan dukungan penuh dari Amerika Serikat.

Pelestina sendiri sebagai suatu negara, dimana dalam pasal 1 Konvensi Montividio yang menyatakan bahwa salah satu syarat berdirinya suatu negara adalah permanent population. Penduduk Palestina yang saat ini banyak mendiami wilayah Tepi Barat dan jalur Gaza secara tetap merupakan suatu permanent population meskipun menganut kepercayaan yang berbeda, ada yang menganut Islam, Kristen dan Yahudi.

Konflik Palestina dan Israel diantaranya Perang Enam Hari pada tahun 1967, perang Yom Kipur pada tahun 1973, pendudukan Israel atas wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza pada tahun 1967 menciptakan ketegangan dan perlawanan yang berkelanjutan dari kelompok-kelompok Palestina, pada masa inilah muncul Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan Hamas. Kemudian agresi-agresi yang dilakukan pada kurun waktu tiga tahun (2012-2014) kondisi Gaza jadi tidak kondusif. Lalu konflik pada 7 Oktober 2023 lalu.

“Banyak upaya-upaya yang telah dilakukan untuk perdamaian seperti resolusi dari PBB yang diantaranya resolusi nomor 242 dan yang lainnya. Resolusi-resolusi tersebut cukup efektif dalam menyerukan gencatan senjata. Kemudian perjanjian Oslo 1993 menciptakan ototiritas Palestina dan peta jalan negosiasi. Namun perjanjian damai selanjutnya seringkali gagal menemukan resolusi akhir. Pada tahun 2006, Hamas memenangkan Pemilu dan mengalahkan faksi Fatah, dengan kemenangan Hamas dari Pemilu tersebut akhirnya Hamas memegang kendali akan Gaza. Puncaknya pada tanggal 27 Desember 2008 pasukan Israel menggempur Gaza dengan meluncurkan serangan udara yang dinamakan “Operation Cast Lead” serangan militer luas terhadap jalur Gaza, berlangsung 22 hari. Genjatan senjata baru dapat terlaksana dengan resolusi PBB pada tanggal 8 Januari 2009 No.1860,” ungkapnya.

Simak kembali materi Majelis Tasbih tentang Konflik Palestina Vs Israel: Pendekatan Sejarah, Politik dan Budaya secara lengkap pada link berikut:

https://www.youtube.com/watch?v=R4gutojsbg8