Peran Baru Pustakawan di Era Literasi Digital: Dari Layanan ke Dampak
(Dalam Rangka Memperingati Hari Pustakawan Indonesia 7 Juli 2026)
Oleh : Ruhimat, S.Sos., M.I.Kom
(Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik / Kepala BYC Library Universitas Djuanda / Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Bogor Raya)
Setiap 7 Juli, Hari Pustakawan diperingati untuk mengingat peran strategis pustakawan dalam membangun masyarakat yang cerdas. Peringatan ini, bagaimanapun, tidak cukup untuk seremoni atau penghargaan terhadap profesi. Untuk menghadapi tantangan zaman, pustakawan harus mengambil peran baru sebagai penggerak literasi digital yang dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Cara orang mencari, mengolah, dan menyebarkan data telah berubah karena kemajuan teknologi. Sekarang, hampir semua pengetahuan dapat diakses dengan telepon genggam dalam hitungan detik. Sayangnya, kemudahan ini juga menimbulkan masalah baru. Informasi yang salah, ujaran kebencian, manipulasi data, dan konten yang menyesatkan menyebar dengan cepat. Masyarakat tidak hanya membutuhkan akses terhadap informasi, tetapi juga harus dapat menilai kualitas dan kebenaran informasi.
Di sinilah peran pustakawan berubah secara signifikan. Pustakawan dulunya hanya berurusan dengan mengelola koleksi dan menyediakan peminjaman buku, tetapi sekarang mereka harus menjadi pendidik literasi informasi, pendamping masyarakat dalam menggunakan teknologi, dan penjaga ekosistem pengetahuan yang sehat.
Perpustakaan telah mengalami perubahan ini. Layanan digital seperti perpustakaan elektronik, repositori institusi, kelas literasi informasi, pelatihan penelusuran sumber ilmiah, dan pendampingan penggunaan teknologi digital telah muncul. Namun, statistik peminjaman, jumlah pengunjung, atau banyaknya koleksi tidak lagi cukup untuk mengukur keberhasilan perpustakaan.
Perpustakaan modern harus menilai efek yang dihasilkan. Apakah masyarakat lebih berhati-hati? Apakah siswa semakin mampu membedakan fakta dari hoax? Apakah pelaku usaha mendapatkan pengetahuan baru yang akan membantu mereka mengembangkan bisnis mereka? Apakah karya ilmiah mahasiswa lebih baik? Jumlah statistik layanan tidak sepenting pertanyaan ini.
Di era digital, kehadiran pustakawan juga berubah. Mereka tidak selalu harus hadir. Pustakawan harus hadir di ruang digital tempat orang berinteraksi setiap hari. Komunitas daring, podcast, webinar, kanal video, dan media sosial dapat menjadi alat yang efektif untuk menyebarkan literasi informasi kepada banyak orang.
Kemampuan harus ditingkatkan secara konsisten untuk mengikuti perubahan ini. Pustakawan harus memiliki pengetahuan tentang teknologi informasi, kecerdasan buatan, pengelolaan data, komunikasi publik, dan pembuatan konten edukatif yang menarik. Tidak ada maksud untuk kompetensi ini untuk menggantikan prinsip-prinsip dasar kepustakawanan; sebaliknya, mereka membantu peran pustakawan tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Karena kecerdasan buatan, profesi pustakawan semakin penting. Mesin dapat menyampaikan informasi dengan cepat, tetapi mereka mungkin tidak dapat memberikan konteks, verifikasi, atau mempertimbangkan aspek etika. Pustakawan memiliki kemampuan untuk mengaitkan informasi dengan kebutuhan pengguna yang bertanggung jawab. Akibatnya, teknologi seharusnya berfungsi sebagai mitra yang membantu layanan, bukan sebagai ancaman bagi pekerjaan.
Kemampuan harus ditingkatkan secara konsisten untuk mengikuti perubahan ini. Pustakawan harus memiliki pengetahuan tentang teknologi informasi, kecerdasan buatan, pengelolaan data, komunikasi publik, dan pembuatan konten edukatif yang menarik. Tidak ada maksud untuk kompetensi ini untuk menggantikan prinsip-prinsip dasar kepustakawanan; sebaliknya, mereka membantu peran pustakawan tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Karena kecerdasan buatan, profesi pustakawan semakin penting. Mesin dapat menyampaikan informasi dengan cepat, tetapi mereka mungkin tidak dapat memberikan konteks, verifikasi, atau mempertimbangkan aspek etika. Pustakawan memiliki kemampuan untuk mengaitkan informasi dengan kebutuhan pengguna yang bertanggung jawab. Akibatnya, teknologi seharusnya berfungsi sebagai mitra yang membantu layanan, bukan sebagai ancaman bagi pekerjaan.
Sebaliknya, perpustakaan juga harus bekerja sama dengan komunitas yang lebih luas. Pemerintah daerah, komunitas literasi, media massa, pelaku industri kreatif, dan sekolah dapat bekerja sama untuk memperluas literasi digital. Perpustakaan dapat memperkuat peran mereka sebagai agen perubahan dan meningkatkan dampak sosial yang mereka miliki dengan bekerja sama.
Hari Pustakawan 2026 adalah waktu yang tepat untuk mengubah perspektif tentang profesi ini. Masyarakat harus melihat pustakawan bukan sekadar penjual buku; mereka harus menjadi penghubung pengetahuan, guru literasi digital, dan penggerak perubahan sosial. Selain itu, perpustakaan harus berani keluar dari comfort zone mereka dengan menyediakan layanan yang memenuhi kebutuhan masyarakat.
masyarakat secara nyata.
Pada akhirnya, masa depan perpustakaan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau megahnya gedung, tetapi oleh kemampuan pustakawan menciptakan manfaat yang dirasakan masyarakat. Ketika seorang pelajar mampu berpikir kritis, seorang warga terhindar dari hoaks, seorang pelaku usaha memperoleh informasi yang meningkatkan usahanya, atau seorang peneliti menghasilkan karya yang berkualitas, saat itulah pustakawan telah menjalankan peran terbaiknya.
Hari Pustakawan bukan sekadar perayaan profesi. Hari ini menjadi pengingat bahwa pustakawan memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kualitas informasi, memperkuat budaya literasi, dan membangun masyarakat yang cakap menghadapi era digital. Dari layanan menuju dampak, itulah arah baru yang harus terus diperjuangkan oleh setiap pustakawan Indonesia.(Rhm)