Kajian Muslimah UNIDA, Angkat Isu Normalisasi Konten yang Merusak Akhlak di Media Sosial
Universitas Djuanda (UNIDA) kembali menyelenggarakan kegiatan rutin Kajian Muslimah yang digelar di Masjid Baitul Hamdi (MBH) UNIDA, Jumat (5/12/2025). Kegiatan kali ini diisi oleh Dosen Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Maria Fitriah, S.Sos., M.Si, dengan tema “Normalisasi Konten yang Merusak Akhlak di Media Sosial,” tema tersebut menyoroti perubahan pola konsumsi media yang membuat konten negatif semakin dianggap wajar oleh masyarakat.
Maria Fitriah, S.Sos., M.Si membuka kajian dengan menyinggung kebiasaan pengguna media sosial yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggulir layar tanpa tujuan jelas.
“Kita senyum-senyum sendiri, tertawa sendiri, tapi komunikasi dengan keluarga justru berkurang. Padahal keluarga adalah tempat utama untuk berinteraksi,” ujarnya.
Mengutip QS. Al-Asr ayat 1–3, Ia mengingatkan pentingnya memanfaatkan waktu dengan baik serta menegaskan bahwa kelalaian dalam mengelola waktu menjadi sebab manusia merugi.
“Setiap detik tidak kembali. Allah memberi kesempatan agar kita menggunakannya untuk amal yang bermanfaat,” jelasnya.
Maria Fitriah, S.Sos., M.Si juga menyoroti munculnya berbagai jenis konten yang dianggap tidak bernilai, bahkan bertentangan dengan akhlak Islam. Ia menyebut contoh seperti pacaran bebas, body shaming, flexing, hingga ujaran bernada vulgar.
“Konten seperti itu dulu dianggap aneh, sekarang dianggap biasa. Inilah yang saya maksud normalisasi konten buruk,” tegasnya.
Lebih jauh, ia mengaitkan fenomena ini dengan maraknya kekerasan siber. Menurutnya, perilaku digital masyarakat kerap menjadi pemicu munculnya serangan verbal maupun visual di dunia maya.
“Kekerasan siber muncul karena apa yang kita lakukan di media sosial. Ketika kata-kata kasar, gambar vulgar, dan video tak pantas dibagikan terus-menerus, batas moral menjadi kabur,” tambahnya.
Selain itu, menyinggung tren sosial yang berkembang, seperti pakaian terbuka yang disebut sebagai gaya modern, ghibah yang dibalut sebagai podcast, hingga penyebaran aib yang dikemas sebagai konten viral.
“Pacaran yang diumbar dianggap relationship goals. Ini menunjukkan standar moral kita sedang digeser oleh konten,” katanya.
Ia menegaskan bahwa media sosial bukan musuh. Namun pengguna harus memahami bahwa alat ini dapat menjadi sarana kebaikan atau sebaliknya.
“Media sosial itu alat. Jika tidak hati-hati, akhlak kita yang rusak. Jangan sampai konten buruk dianggap keren sementara konten baik dianggap kuno,” ujarnya.
Dalam penutupnya, Maria Fitriah, S.Sos., M.Si mengajak peserta untuk menjaga pandangan, kehormatan, serta fokus ibadah di tengah derasnya arus konten digital. Ia mengingatkan pentingnya menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah.
“Sebarkanlah kebaikan, gunakan bahasa yang santun. Itulah dakwah yang dibutuhkan hari ini,” pungkasnya.