Green Accounting Jadi Sorotan, FEB UNIDA Hadirkan Akademisi UiTM Malaysia dalam Exchange Program
Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Djuanda (UNIDA) menggelar Exchange Program bertajuk Green Accounting bekerja sama dengan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Cawangan Melaka, Malaysia, pada Jum’at (3/7/2026). Kegiatan berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting dengan diikuti oleh mahasiswa FEB UNIDA.
Kolaborasi lintas negara ini digagas untuk memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai akuntansi hijau (green accounting), sekaligus mempererat jejaring akademik internasional antara UNIDA dan UiTM.
Dalam kegiatan tersebut, 2 materi disampaikan oleh Dr. Sharifah Norhafiza Syed Ibrahim, Senior Lecturer dari Faculty of Accountancy, Universiti Teknologi MARA, Malaysia dengan tema “Green Accounting: Definition, Concepts, and Scope & Impacts on Auditing" dan “Auditing the Invicible” terkait bagaimana Green Accounting dan CSR mentransformasi pengawasan lingkungan di sektor manufaktur.
Ketua Program Studi Akuntansi FEB UNIDA, Dr. Indra Cahya Kusuma, S.E., M.Si menyampaikan apresiasi atas terjalinnya kerja sama ini dan berharap kedepannya dapat memberi manfaat bagi pengembangan keilmuan mahasiswa.
"Kerja sama dengan Universiti Teknologi MARA ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa kami untuk belajar langsung dari perspektif internasional mengenai green accounting. Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga melihat bagaimana konsep ini diterapkan di negara lain," ujarnya.
Sementara itu pada sesi pemaparan, Dr. Sharifah Norhafiza Syed Ibrahim menjelaskan bahwa green accounting merupakan cabang khusus dari ilmu akuntansi yang mengintegrasikan biaya dan manfaat lingkungan ke dalam sistem keuangan konvensional, sehingga mampu memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kinerja perusahaan.
"Green accounting bukan sekadar mencatat transaksi keuangan semata, melainkan secara sistematis mengidentifikasi, mengukur, dan melaporkan dampak lingkungan dari operasional, produk, maupun layanan sebuah organisasi. Ini memberikan gambaran yang jauh lebih jujur mengenai kinerja perusahaan yang sesungguhnya," tuturnya.
Lebih lanjut, Dr. Sharifah Norhafiza Syed Ibrahim menekankan bahwa penerapan green accounting kini semakin relevan seiring meningkatnya tuntutan transparansi dari investor maupun regulator global.
"Praktik ini sudah bergeser dari yang semula bersifat sukarela menjadi kebutuhan strategis dan tuntutan regulasi. Dengan mengidentifikasi biaya lingkungan yang selama ini tersembunyi dalam laporan keuangan, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi operasional sekaligus membangun kepercayaan publik dan mencegah praktik greenwashing," pungkasnya.
"Mahasiswa hari ini adalah pengambil keputusan di masa depan. Memahami bagaimana faktor keberlanjutan memengaruhi opini audit, penilaian aset, hingga pengakuan pendapatan akan membuat mereka lebih siap menghadapi tuntutan profesi akuntansi yang terus berkembang," tambahnya.
Memasuki sesi kedua, Dr. Sharifah Norhafiza Syed Ibrahim memaparkan temuan risetnya bertajuk "Auditing the Invisible" yang mengulas bagaimana green accounting dan Corporate Social Responsibility (CSR) turut membentuk pengawasan lingkungan di sektor manufaktur. Riset tersebut menggunakan data empiris dari 12 perusahaan manufaktur besar yang tercatat di Bursa Efek Indonesia selama periode 2020-2024, dengan pendekatan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM).
"Temuan riset kami menunjukkan bahwa green accounting yang bersifat kuantitatif memiliki pengaruh yang jauh lebih terstruktur terhadap pengawasan audit lingkungan dibandingkan narasi CSR yang sifatnya sukarela. Data dan angka yang terukur membantu mengurangi asimetri informasi dan memudahkan auditor melakukan penilaian risiko secara akurat," tuturnya.
Ia menjelaskan, dalam studi tersebut, green accounting dan CSR bersama-sama menjelaskan sekitar 13,5 persen variasi dalam hasil audit lingkungan, sebuah temuan yang menurutnya cukup signifikan dalam kajian manajemen perilaku organisasi. Meski CSR juga menunjukkan pengaruh positif dan signifikan, ia menegaskan bahwa keduanya memiliki peran yang saling melengkapi.
"Green accounting memberikan auditor kemampuan untuk menilai secara akurat, sementara CSR memberikan keyakinan bahwa organisasi memang memiliki komitmen yang tulus. Keduanya sama-sama penting, namun praktik yang bersifat wajib dan terukur seperti green accounting terbukti memberikan hasil pengawasan yang lebih superior secara struktural dibandingkan inisiatif CSR yang sukarela semata," tambahnya.